Anggaran Belum Cair, SPPG Tempeh Hentikan Sementara Penyaluran MBG ke 3.000 Penerima Manfaat

Globaltoday.id,  Lumajang — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, dilaporkan terhenti sementara selama dua hari, yakni Senin–Selasa, 2–3 Februari 2026. Penghentian ini berdampak langsung pada sekitar 3.000- an penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SMP hingga SMA.

Informasi tersebut disampaikan oleh sejumlah pihak sekolah penerima manfaat kepada awak media. Mereka menyebutkan bahwa SPPG Tempeh tidak menyalurkan MBG kepada peserta didik selama dua hari akibat anggaran dari pusat yang belum cair.

Hal itu dibenarkan oleh Afandi,  selaku PIC SMA Tempeh, saat ditemui Globaltoday.id.

“Benar, anak-anak tidak mendapatkan MBG selama dua hari, Senin dan Selasa. Informasi yang kami terima, anggaran dari pusat belum cair,” ujar Afandi.

Nilai Anggaran MBG Capai Rp45 Juta per Hari

Berdasarkan skema pendanaan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN), anggaran MBG ditetapkan sebesar Rp15.000 per porsi. Nilai tersebut terbagi menjadi:

* Rp10.000 untuk biaya makanan MBG,

* Rp5.000 untuk operasional dan administrasi SPPG.

Dengan jumlah penerima manfaat mencapai 3.000 siswa, maka total anggaran MBG di SPPG Tempeh mencapai sekitar Rp45 juta per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta dialokasikan khusus untuk penyediaan makanan bergizi, sementara sisanya untuk operasional penunjang.

Terhentinya penyaluran selama dua hari berarti potensi dana MBG yang tidak terserap mencapai sekitar Rp90 juta,  dengan nilai makanan sekitar Rp60 juta.

Kekhawatiran Dampak pada Pemenuhan Gizi Anak

Penghentian ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang menjadikan MBG sebagai bagian penting pemenuhan kebutuhan gizi harian.

“Bagi sebagian anak, MBG itu sangat berarti. Bukan sekadar tambahan, tapi kebutuhan,” ujar salah satu tenaga pendidik di Tempeh.

Afandi berharap distribusi MBG dapat kembali berjalan normal mulai Rabu (4/2/2026).

“Kami berharap hari Rabu sudah normal kembali. Harapannya, BGN segera mencairkan anggaran agar penyaluran MBG bisa dilanjutkan,” katanya.

Sorotan Tata Kelola dan Mitigasi Program

Kasus terhentinya MBG di Tempeh kembali menyoroti ketergantungan penuh operasional SPPG pada pencairan anggaran pusat,  tanpa adanya skema cadangan atau mitigasi ketika terjadi keterlambatan.

Padahal, dengan nilai anggaran puluhan juta rupiah per hari dan sasaran ribuan anak, program MBG dinilai membutuhkan manajemen keuangan yang lebih tangguh, agar tidak mudah berhenti dan berdampak langsung pada penerima manfaat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Tempeh maupun Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penyebab detail keterlambatan pencairan anggaran tersebut.

Publik berharap kejadian serupa tidak terulang, mengingat MBG bukan hanya program anggaran, melainkan investasi negara dalam kesehatan dan masa depan generasi muda.

( bersambung………episode 2 )