Dari Sekolah Sunyi Menjadi Dapur Harapan: Aktivitas SPPG Sukorejo Kunir Menghidupkan Kembali Area SDN Sukorejo 02

Globaltoday.id, Lumajang — Gedung SDN Sukorejo 02 di Kecamatan Kunir,  Kabupaten Lumajang, yang kini tak lagi dipenuhi suara riuh murid, kembali menemukan denyut kehidupannya. Sekolah yang tidak lagi beroperasi karena ketiadaan siswa itu, kini menjadi pusat aktivitas penting bagi ribuan anak melalui kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo.

Berada di area sekolah yang sama—yang juga digunakan sebagai kantor Koordinator Pelayanan Pendidikan (KPP) Dinas Pendidikan Kecamatan Kunir—SPPG Sukorejo menjadi simbol perubahan fungsi ruang: dari ruang belajar yang sunyi menjadi dapur harapan bagi masa depan generasi muda.

Di bawah naungan Yayasan Berlian Berkah Jaya, SPPG Sukorejo telah beroperasi sekitar empat bulan dan melayani 3.187 penerima manfaat dari 33 satuan pendidikan, mulai jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga MA.

Setiap pagi, aktivitas dapur sudah dimulai. Bukan dengan bel sekolah, melainkan dengan suara peralatan masak dan koordinasi tim yang sibuk menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi. Semua dijalankan oleh tim kecil yang bekerja dengan peran masing-masing: Vika Anjana Alvaro sebagai Kepala SPPG, Annisa Maisaroh selaku ahli gizi, Tantri Vindriani di bagian akuntansi, serta Aris Sulistyo sebagai asisten lapangan.

“Menu tidak disiapkan dadakan,” kata Vika Anjana Alvaro,  Rabu (28/1/2026).

“Kami menyusun menu untuk satu minggu ke depan bersama ahli gizi dan tim juru masak. Jadi gizinya terkontrol, variasinya terjaga, dan distribusi lebih terencana.”

SPPG Sukorejo telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan sejak 15 Desember 2025, sebagai syarat mutlak pendirian dapur gizi. Sertifikat itu menjadi jaminan bahwa makanan yang diolah memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.

Di lapangan, Aris Sulistyo memastikan distribusi berjalan sesuai ritme sekolah.

“Anak PAUD, TK, dan SD kami dahulukan karena mereka pulangnya lebih awal. SMP dan SMA biasanya menyusul agak siang. Selama ini alhamdulillah lancar,” ujarnya.

Namun hari Jumat menjadi cerita tersendiri.

“Kalau Jumat agak cek-cek ulang, karena anak-anak pulang lebih cepat untuk salat Jumat. Jadi distribusi harus lebih rapi dan cepat,” katanya sambil tersenyum.

Selama empat bulan berjalan, hampir tak ada keluhan dari penerima manfaat terkait menu makanan. Meski demikian, tantangan tetap ada. Saat musim hujan, halaman SPPG sering tergenang air, membuat area menjadi becek.

“Kami sudah mengusulkan ke yayasan agar halaman diurug supaya tidak tergenang. Mudah-mudahan segera ada tindak lanjut,” harap Vika.

Ketika ditanya mengenai perluasan penerima manfaat sesuai Perpres Nomor 115, yang mencakup balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta guru dan karyawan, pihak SPPG mengakui program tersebut masih dalam proses penyesuaian.

“Belum berjalan, masih proses,” kata Vika singkat.

Sementara soal pasokan bahan makanan, sebagian memang berasal dari wilayah Kunir, namun pengadaannya berada di bawah kewenangan yayasan.

Kini, di lokasi yang dulu sunyi karena tak lagi ada murid, aktivitas SPPG Sukorejo menghadirkan kehidupan baru. Gedung sekolah yang tak beroperasi kembali memiliki peran—bukan sebagai tempat belajar di kelas, tetapi sebagai pusat pemenuhan gizi bagi ribuan anak.

Dari dapur sederhana di area SD Sukorejo 02,  harapan tentang generasi yang lebih sehat terus dimasak setiap hari.