KERAPAN SAPI SELAMA DUA HARI GEMPARKAN SELOK ANYAR: 128 PESERTA BEREBUT GELAR, JOKI CILIK JADI SOROTAN

Jawa Timur, Lumajang436 Dilihat

KERAPAN SAPI SELAMA DUA Globaltoday.id, Lumajang — Tradisi kerapan sapi kembali meledak meriah di lapangan milik pribadi di Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian, yang pada akhir pekan ini berubah menjadi arena penuh adrenalin dan pesona budaya Madura. Event yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (15–16/11/2025), sukses menyedot perhatian ratusan penonton dan puluhan peserta dari berbagai daerah, termasuk dari pulau garam, Madura.

Sebanyak 128 pasangan sapi ambil bagian dalam gelaran kali ini. Para peserta datang dari desa-desa di Kabupaten Lumajang dan Probolinggo, namun kehadiran peserta dari Madura tetap menjadi magnet tersendiri. Tak hanya sebagai peserta, para tengkulak Madura juga dikenal sebagai pembeli besar yang sering memborong sapi-sapi unggulan setelah pertandingan.

H. Nur Hasyim, Kepala Desa Selok Anyar, menyampaikan bahwa lapangan ini memang dibuka untuk masyarakat sebagai ruang kegiatan budaya dan olahraga tradisional.

oppo_2

“Kalau tidak salah, tahun ini sudah tiga kali digelar. Lapangan ini memang untuk masyarakat, siapa saja boleh pakai selama ikut membantu merawatnya,” ungkapnya.

Panitia menjelaskan bahwa biaya pendaftaran dibedakan berdasarkan kelas:

* Kelas C: Rp 800 ribu

* Kelas A dan B: Rp 1 juta

Hadiah yang diperebutkan pun tak main-main. Untuk kelas utama, panitia menyiapkan sepeda motor Yamaha. Sementara kelas lain berkesempatan membawa pulang sepeda listrik serta hadiah menarik lainnya.                                                                                          Joki Cilik Jadi Primadona Arena

Yang membuat gelaran tahun ini semakin unik adalah para joki yang sebagian besar merupakan anak-anak berusia 13–15 tahun. Keberanian mereka mengendalikan sapi dengan kecepatan tinggi menjadi tontonan yang menegangkan sekaligus mengagumkan.

Dua joki cilik yang menjadi sorotan adalah kakak-beradik Saiful (15) dan Wahab (13),  keduanya sudah dikenal di tingkat nasional karena sering menjuarai berbagai event kerapan sapi. Kehadiran mereka membuat atmosfer pertandingan semakin berkelas, sekaligus memberi warna tersendiri bagi penggemar olahraga tradisional ini.

Ajang Budaya yang Terus Berkembang

Ketua pelaksana, Kades Selok Anyar, berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi pemersatu masyarakat.

“Kerapan sapi ini bukan untuk mencari masalah. Ini wadah persatuan, mempererat tali persaudaraan, dan mengangkat budaya kita,” ujarnya.

Ketua paguyuban kerapan sapi kabupaten Lumajang,  Duljamad, menambahkan bahwa kerapan sapi telah menjadi identitas budaya yang tidak boleh hilang. Selain mempertahankan tradisi, gelaran ini juga mampu menggerakkan ekonomi lokal, terutama bagi para peternak dan pelaku usaha kecil di sekitar acara.

Magnet Wisata Budaya Madura di Lumajang

Dengan antusiasme penonton yang membludak dan peserta yang terus meningkat, kerapan sapi di Selok Anyar perlahan menjelma menjadi ikon wisata budaya lokal, khususnya bagi masyarakat Madura di perantauan maupun wisatawan yang ingin melihat langsung adrenalin budaya khas Nusantara.

Derap kaki sapi, sorak penonton, dan aksi joki cilik yang memacu keberanian menjadikan Selok Anyar sebagai panggung budaya yang berdenyut hidup selama dua hari penuh.

Tradisi kuno yang semakin modern, namun tetap menjaga jati diri— kerapan sapi kembali membuktikan dirinya sebagai warisan budaya yang layak dipromosikan ke tingkat lebih tinggi, bahkan menjadi daya tarik wisata unggulan Lumajang.