KETUA IKSAS PUSAT : APRESIASI SANTRI DALAM MENJAGA NKRI MELALUI KHIDMAH PESANTREN

Globaltoday.id, PASURUAN — Peran santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak hanya diwujudkan melalui pengabdian di ruang-ruang keagamaan, tetapi juga melalui karakter, kompetensi, kepedulian sosial, serta khidmah kepada pesantren dan masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam perhelatan keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan. Dalam kesempatan tersebut, Gus Nailurrahman menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme ribuan alumni yang hadir dan memenuhi ruangan hingga lantai atas ( 22/8/2026 ).

Menurutnya, kehadiran para alumni merupakan gambaran kuatnya ikatan batin antara santri, pesantren, dan para masyayikh. Ikatan tersebut, kata dia, harus terus dikembangkan menjadi kekuatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Makna Santri: Orientasi Akhirat hingga Khidmah Sosial

Gus Nailurrahman menguraikan makna filosofis kata santri melalui susunan huruf Arab yang menggambarkan karakter ideal seorang santri.

Huruf Sin (س) dimaknai Salikun ilal akhirah, yakni pribadi yang memiliki tujuan hidup menuju akhirat dan mengharapkan ridha Allah.

Kemudian Nun (ن), Na’ibun ‘anil masyaikh, menggambarkan santri sebagai representasi atau duta para guru dan masyayikh. Karena itu, santri memiliki tanggung jawab menjaga nama baik guru dan pesantren di mana pun berada.

Huruf Ta’ (ت), Tarikun ‘anil ma’ashi, bermakna pribadi yang bersungguh-sungguh meninggalkan kemaksiatan. Sementara Ra’ (ر), Raghibun fil khairat, menggambarkan sosok yang senang melakukan kebajikan dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.

Adapun Ya’ (ي), Yarjus salamata fid-dunya wal akhirah, bermakna harapan memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Dari pemaknaan tersebut, santri tidak semata-mata dipahami sebagai identitas seseorang yang pernah belajar di pesantren. Santri merupakan karakter, nilai, dan mentalitas yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Tiga Kekuatan Santri untuk Indonesia

Dalam konteks kebangsaan, Gus Nailurrahman menegaskan bahwa santri memiliki tiga modal penting yang dapat menjadi kekuatan bagi perjalanan NKRI.

Pertama, Character. Santri dibentuk dengan pondasi akhlak, moral, adab, dan tanggung jawab. Nilai tersebut menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kedua, Competence. Pesantren tidak hanya membekali santri dengan ilmu agama, tetapi juga mendorong penguasaan berbagai kompetensi yang dibutuhkan masyarakat.

Ketiga, Community. Jaringan santri dan alumni merupakan kekuatan sosial yang besar. Jika dibangun dengan semangat persaudaraan dan kepedulian, komunitas tersebut dapat menjadi energi positif dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

“Tiga C tersebut menjadi kekuatan santri: karakter, kompetensi, dan komunitas,” demikian pesan yang disampaikan dalam forum tersebut.

Gotong Royong Membangun Ma’had Aly

Selain berbicara mengenai peran santri dalam kehidupan kebangsaan, forum tersebut juga menjadi momentum penyampaian perkembangan pembangunan Gedung Ma’had Aly Salafiyah Pasuruan.

Pembangunan gedung Ma’had Aly direncanakan memasuki tahap peletakan batu pertama pada agenda haul mendatang. Total kebutuhan anggaran pembangunan diperkirakan mencapai sekitar Rp30 miliar.

Hingga saat ini, dana awal yang telah terkumpul mencapai sekitar Rp3,8 miliar. Capaian tersebut menjadi bukti awal kekuatan gotong royong keluarga besar pesantren.

Sebelumnya, para alumni juga telah menunjukkan kekompakan dalam mendukung pengembangan pesantren, termasuk keberhasilan menggalang dana untuk pembebasan lahan dengan nilai mencapai Rp8,45 miliar.

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa khidmah alumni tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Hubungan antara alumni dan pesantren terus hidup melalui kontribusi nyata dalam berbagai bidang.

Semangat gotong royong tersebut diharapkan terus berlanjut untuk mewujudkan pembangunan Ma’had Aly Salafiyah. Pembangunan bukan sekadar mendirikan sebuah gedung, tetapi bagian dari ikhtiar menyiapkan pusat pendidikan kader umat yang memiliki karakter, kompetensi, dan kepedulian terhadap bangsa.

Pada akhirnya, khidmah pesantren menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi santri dalam menjaga NKRI. Santri yang berakhlak, berilmu, kompeten, serta memiliki kepedulian sosial diyakini dapat terus mengambil peran strategis dalam menjaga persatuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, agama, dan negara.

(Luqman)