TGB di Haul ke-45 KH. Abdul Hamid: Istiqamah Bukan Karunia Instan, Melainkan Buah Riyadah dan Mujahadah.

Globaltoday.id, Pasuruan — Peringatan Haul ke-45 Almaghfurlah KH. Abdul Hamid bin Abdulloh Umar di Pasuruan menjadi momentum untuk kembali menggali keteladanan dan perjalanan spiritual ulama besar tersebut.

Dalam tausiyahnya pada acara yang disiarkan secara langsung oleh TV9 Nusantara, Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi atau TGB mengajak jamaah tidak hanya melihat sosok Mbah Hamid dari sisi hasil akhir berupa kewalian dan keberkahan yang dirasakan umat.

Menurutnya, keistiqamahan Mbah Hamid merupakan buah dari proses panjang, riyadah, mujahadah, dan perjuangan batin yang dilakukan secara terus-menerus.
TGB menegaskan bahwa istiqamah bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau instan.

Ada proses panjang dalam menempa diri hingga seseorang mampu mencapai keteguhan dalam iman dan amal.
Ia kemudian mengisahkan transformasi karakter Mbah Hamid. Pada masa muda, Mbah Hamid dikenal memiliki karakter yang tegas dan keras.

Namun, melalui riyadah dan perjuangan batin yang tidak berhenti, ketegasan tersebut berhasil diolah menjadi kelembutan, ketenangan, serta kasih sayang yang begitu mendalam kepada sesama. Senyum dan kelembutan Mbah Hamid kepada umat, menurut TGB, merupakan salah satu buah dari proses tersebut.

Makna “Tsumma” dalam Istiqamah
TGB juga mengajak jamaah merenungkan firman Allah SWT dalam Surah Fussilat ayat 30:
“Innalladzina qalu rabbunallah tsumma istaqamu…”

Menurut TGB, penggunaan kata “tsumma” (ثم) memiliki makna penting. Kata tersebut menunjukkan adanya jeda, proses, dan tahapan perjalanan. Artinya, perjalanan dari sekadar mengucapkan dan meyakini “Rabbunallah” menuju kondisi “istaqamu” bukanlah perjalanan yang instan.
Istiqamah membutuhkan waktu, kesungguhan, latihan, serta perjuangan melawan diri sendiri.

Karena itu, keteladanan Mbah Hamid harus dilihat sebagai hasil dari perjalanan panjang dalam mendidik dan menempa jiwa.
Kesalehan Menjadi Benteng bagi Umat
Lebih jauh, TGB menjelaskan bahwa kesalehan seseorang tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri. Kesalehan dan istiqamah orang-orang saleh dapat menjadi keberkahan dan benteng bagi keluarga, keturunan, santri, serta masyarakat di sekitarnya.

TGB mengaitkan hal tersebut dengan kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS dalam Surah Al-Kahfi, khususnya firman Allah SWT tentang dua anak yatim:
“Wa kana abuhuma shalihan” — dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.
Ayat tersebut, menurut TGB, menunjukkan bagaimana kesalehan seseorang dapat menjadi sebab hadirnya perlindungan dan keberkahan bagi generasi setelahnya.

Dalam konteks Mbah Hamid, keteladanan dan keistiqamahan beliau menjadi warisan spiritual yang terus dirasakan umat. Keberkahan tersebut tidak hanya dikenang dalam momentum haul, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para santri dan masyarakat untuk terus menjaga hubungan dengan Allah dan memperbaiki akhlak.

Tiga Ikhtiar Melahirkan Generasi Saleh
TGB juga menyampaikan tiga ikhtiar penting dalam mendidik anak maupun santri agar menjadi generasi saleh dan muslih, yakni generasi yang tidak hanya baik untuk dirinya sendiri tetapi juga mampu memberikan kebaikan kepada orang lain.
Pertama, memberikan pendidikan, nasihat, dan bimbingan secara langsung.

Generasi tidak cukup hanya diberi pengetahuan, tetapi harus mendapatkan pendampingan dan keteladanan.
Kedua, mendoakan dengan sungguh-sungguh.

Doa menjadi bagian penting dalam ikhtiar mendidik generasi karena perubahan hati dan keberhasilan seseorang pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Ketiga, memperbaiki kesalehan diri sendiri terlebih dahulu. Orang tua, guru, dan para pendidik harus berusaha menata diri sebelum berharap anak atau santrinya menjadi pribadi yang saleh.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi penting dari keteladanan Mbah Hamid. Keistiqamahan beliau tidak lahir secara instan, tetapi melalui perjalanan panjang dalam mendidik jiwa, melakukan riyadah, bermujahadah, dan terus memperbaiki diri.

Haul ke-45 KH. Abdul Hamid pun bukan sekadar kegiatan mengenang wafatnya seorang ulama. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang untuk menggali kembali nilai-nilai keteladanan beliau agar dapat diteruskan oleh generasi santri dan umat.

Istiqamah Mbah Hamid adalah buah perjuangan. Dan warisan terbesarnya adalah keteladanan yang terus hidup di tengah umat.(luqman)