Globaltodays.id, Pasuruan [22 Agustus 2026) – Semangat kekeluargaan dan pengabdian yang kental menyelimuti suasana peringatan Haul ke-45 almarhum KH. Abdul Hamid Bin Abdulloh Umar.
Di tengah riuh rendah lautan jamaah yang memadati area haul, kehadiran sebuah stan mobil box unik menjadi sorotan dan penyejuk bagi para peziarah.
Mobil box putih tersebut, yang terlihat terparkir rapi di salah satu sudut strategis, membawa spanduk bertuliskan ucapan selamat datang: “Selamat Datang Jama’ah Haul KH. Abdul Hamid Bin Abdulloh Umar”.
Spanduk tersebut juga menampilkan logo melingkar berwarna cokelat dengan singkatan MBG di tengahnya, lengkap dengan tulisan Al-Madady dan Manut Bimbingane Guru.
Di saat asumsi publik, terutama di masa-masa seperti ini, mungkin langsung mengaitkan “MBG” dengan program “Makan Bergizi Gratis,” stan di haul KH. Hamid ini mengusung makna yang berbeda namun tak kalah mulia.
MBG di sini merupakan akronim dari Manut Bimbingane Guru (Patuh pada Bimbingan Guru), sebuah nilai fundamental dalam tradisi pesantren dan kehidupan bermasyarakat yang damai.
Stan mobil box MBG ini bukanlah untuk menyajikan makanan berat, melainkan merupakan sebuah posko pelayanan logistik sederhana namun bermakna. Mobil box tersebut berisikan ratusan kotak minuman teh kemasan yang disiapkan khusus untuk dipersembahkan secara gratis kepada para jamaah haul.
Tujuan utama dari inisiatif ini sangat jelas: memberikan konsumsi ringan secara cuma-cuma kepada para jamaah. Penyelenggara menyadari betapa lelah dan hausnya jamaah yang datang dari berbagai penjuru, berjalan kaki jauh, dan berdiri lama di bawah terik matahari demi mengikuti rangkaian acara haul. Minuman teh gratis ini diharapkan dapat sedikit mengikis dahaga dan memberikan kesegaran instan bagi para peziarah.
Inisiatif menghadirkan stan “Manut Bimbingane Guru” ini bukanlah tanpa sosok penggerak. Adalah Muhammad Siddiq bin Nasih bin Hamid, putra dari KH. Nasih bin Hamid dan cucu dari KH. Abdul Hamid sendiri, yang menjadi tokoh di balik berdirinya layanan ini.
Dengan semangat melayani yang diwarisi dari sang kakek, Muhammad Siddiq berupaya memberikan pelayanan kenyamanan bagi para jamaah haul, memastikan mereka merasa disambut dan diperhatikan selama berada di area haul.
Salah seorang jamaah, Ahmad, yang datang dari Situbondo, mengaku sangat terbantu. “Alhamdulillah, saya baru sampai dan sangat haus. Teh ini sangat segar dan berarti sekali bagi saya. Terima kasih kepada panitia yang sudah memikirkan hal-hal kecil seperti ini,” ujarnya sambil tersenyum puas.
Inisiatif “Manut Bimbingane Guru” melalui pembagian teh gratis ini menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para ulama—seperti melayani tamu, peduli pada sesama, dan kerendahan hati—dapat diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang sederhana namun berdampak besar bagi kenyamanan dan kelancaran kegiatan haul.
Kehangatan teh yang dibagikan sejalan dengan kehangatan semangat silaturahmi yang senantiasa terpancar dari peringatan haul KH. Abdul Hamid setiap tahunnya.(luqman)
