Globaltoday.id, Lumajang – Salah satu pendekatan kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan vokasi adalah penerapan Teaching Factory (TEFA), terutama pada SMK berstatus Pusat Keunggulan (SMK PK). Model ini memadukan kegiatan belajar dengan standar industri melalui proses produksi nyata yang dikelola oleh sekolah. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh teori di dalam kelas, tetapi juga merasakan suasana kerja yang mendekati kondisi industri sesungguhnya.
Melalui TEFA, siswa dibiasakan memahami alur operasional, kedisiplinan kerja, pengendalian kualitas, hingga pelayanan terhadap pelanggan. Guru dalam hal ini bertindak sebagai pembimbing sekaligus pengawas yang memastikan bahwa setiap aktivitas mengikuti prosedur yang berlaku di dunia industri. Produk atau layanan yang dihasilkan bukan sekadar tugas akademik, tetapi bernilai jual sehingga melatih sisi bisnis dan jiwa kewirausahaan peserta didik.
Program ini telah diterapkan di berbagai kompetensi keahlian, seperti teknik otomotif, teknik permesinan, tata boga, multimedia, perhotelan, hingga agribisnis. Pada bidang kuliner, misalnya, siswa memproduksi makanan kemasan yang dipasarkan ke masyarakat dengan standar kebersihan tertentu. Di kompetensi otomotif, siswa terlibat langsung dalam bengkel teaching factory yang melayani servis kendaraan dari konsumen umum. Sedangkan pada jurusan multimedia, mereka mengembangkan jasa desain dan produksi konten digital bagi UMKM lokal.
Keberadaan TEFA memberikan sejumlah dampak positif. Pertama, kompetensi teknis peserta didik meningkat karena terbiasa mengerjakan proyek nyata. Kedua, sekolah memperoleh pemasukan tambahan untuk mendukung perawatan sarana praktik. Ketiga, industri mendapatkan calon tenaga kerja yang memahami budaya profesional. Selain itu, interaksi langsung dengan konsumen meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta daya saing siswa.
Namun, pelaksanaan TEFA masih membutuhkan dukungan berkesinambungan. Sarana praktik harus memenuhi standar minimal industri, guru produktif perlu mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan (upskilling–reskilling), dan jejaring mitra industri harus terus diperkuat. Tantangan lainnya adalah konsistensi manajemen produksi, mengingat sekolah tetap harus menyesuaikan dengan jadwal pembelajaran formal.
Di Kabupaten Lumajang, peluang pengembangan TEFA sangat terbuka. Potensi daerah seperti pengolahan pangan berbasis pertanian, pariwisata alam, kriya kreatif, dan layanan digital dapat diolah menjadi lini produksi teaching factory. Kolaborasi dengan UMKM, hotel, biro wisata, hingga bengkel lokal dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang relevan dan produktif.
Melalui kerja sama yang solid dan penerapan yang berkesinambungan, TEFA tidak hanya meningkatkan keterampilan lulusan SMK, tetapi juga mendorong peningkatan daya saing daerah. Lumajang memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat pendidikan vokasi yang inovatif, menghasilkan sumber daya manusia terampil yang siap menghadapi dinamika industri masa kini. Dengan memaksimalkan dukungan pemerintah daerah, keterlibatan pihak industri, serta kesiapan sekolah beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, transformasi vokasi dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Penulis : Dr. Agus Salim, M.Pd ( Dosen Unipar Jember, Mantan Kadisdikbud Lumajang )
