Link & Match SMK : Mencetak Lulusan Siap Kerja di Era Industri 4.0, Apakah Lumajang Sudah Siap?

Jawa Timur, Lumajang228 Dilihat

Globaltoday.id, Lumajang – Perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat di era Industri 4.0 menuntut lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa cukup banyak lulusan SMK yang belum terserap dunia industri karena ketidaksesuaian keterampilan. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah mendorong implementasi program Link & Match, yaitu kemitraan antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) agar kurikulum, pelatihan, dan praktik kerja benar-benar menyesuaikan kebutuhan sebenarnya.

Program ini memprioritaskan pembelajaran berbasis praktik, kegiatan magang, sertifikasi keahlian, serta penguatan teaching factory di sekolah. Dengan pendekatan tersebut, lulusan tidak sekadar memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan terapan sesuai standar industri. Bidang yang tersentuh program ini pun sangat beragam, mulai otomotif, teknologi informasi, teknik mesin, hospitality, hingga agribisnis.

Data Kementerian Perindustrian mencatat, hingga 2024 terdapat lebih dari 2.600 SMK yang telah menjalin kerja sama dengan 855 perusahaan melalui program Link & Match nasional. Artinya, semakin banyak peserta didik yang memperoleh kompetensi yang tepat sasaran, sehingga peluang kerja mereka semakin terbuka. Selain itu, survei pendidikan vokasi nasional menunjukkan bahwa sekitar 51% lulusan SMK kini telah menjalani praktik kerja industri sebagai bagian penting dalam pembelajaran.

Di Kabupaten Lumajang, potensi penerapan konsep ini sangat menjanjikan. Perkembangan pertanian modern, UMKM pangan olahan, pariwisata berbasis alam, hingga industri kreatif membuka ruang kolaborasi yang luas. Melalui kemitraan strategis, penguatan workshop pelatihan, hingga penyelarasan kurikulum produktif, SMK dapat berperan sebagai penghasil tenaga terampil yang mendukung perekonomian daerah.

Meskipun demikian, sejumlah tantangan masih memerlukan perhatian. Ketersediaan sarana praktik belum merata, kompetensi guru produktif harus terus ditingkatkan, serta belum semua industri bersedia terlibat secara aktif. Selain itu, keterampilan digital seperti desain konten, pemrograman dasar, digital marketing, dan IT support mulai menjadi standar baru yang wajib dikuasai.

Salah satu Kepala Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan menyampaikan, “Kami terus memperbarui modul pembelajaran dan menjalin kemitraan dengan industri untuk memastikan lulusan siap kerja. Tantangannya, perkembangan teknologi terlalu cepat, sehingga guru juga harus terus meningkatkan kemampuan.”

Di Lumajang sendiri, geliat pertanian modern, pariwisata alam, dan UMKM olahan pangan tengah menunjukkan perkembangan positif. Jika SMK mampu berkolaborasi dengan sektor-sektor lokal tersebut, serapan tenaga kerja akan semakin cepat, bahkan muncul peluang bagi lulusan untuk menjadi wirausaha baru. Pendampingan dan pelatihan entrepreneurship pun dapat membuka ruang ekonomi berbasis potensi daerah.

Dengan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, SMK, dan industri, program Link & Match dapat menjadi tulang punggung dalam membangun ekosistem vokasi yang berdaya saing. Jika dijalankan secara konsisten, lulusan SMK bukan hanya siap bekerja tetapi juga mampu bersaing, berinovasi, berwirausaha, dan mengambil peran dalam transformasi ekonomi daerah.

Lantas, sejauh mana kesiapan Lumajang dalam menata kolaborasi tersebut secara berkelanjutan?

Penulis: Dr. Agus Salim, M.Pd ( Dosen Unpar Jember, Mantan Kadisdik Lumajang )