Globaltoday.id, Lumajang, 31 Juli 2025 — Tsabita Dianyssa Estasaadya, siswi kelas XI-8 SMAN 1 Tempeh, kembali membuktikan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Dalam gelaran Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kabupaten Lumajang, ia berhasil menyabet juara pertama kategori seni tunggal pencak silat, membawa harum nama sekolah sekaligus membukakan gerbang menuju ajang provinsi ( 19/6 ).
Kisahnya dimulai sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku SD, Tsabita kecil tertarik mengikuti ekstrakurikuler pencak silat yang ia lihat di sekolah. “Tanpa diajak siapa pun, aku langsung mendaftar. Waktu itu rasanya keren banget bisa belajar tendangan dan gerakan seni,” kenangnya.
Namun, jalan prestasi tak selalu mulus. Tsabita sempat terpuruk karena beberapa kekalahan, hingga sempat merasa ingin berhenti. Tapi dorongan dari dalam diri untuk bangkit selalu lebih kuat. “Aku belajar berdamai dengan kegagalan dan menjadikannya batu loncatan untuk lebih baik,” ujarnya.
Tahun ini, Tsabita tidak hanya berjuang di O2SN. Ia juga lolos ke Porprov Jawa Timur dalam kategori seni beregu. Dua kompetisi besar yang berdekatan waktunya membuatnya harus mengatur jadwal latihan yang super padat. “Setiap hari latihan siang, dan pagi-pagi setelah salat Subuh aku juga lari. Semua ini demi hasil terbaik,” tuturnya.
Pengumuman juara jadi momen yang tak terlupakan. Karena gugup, ia memilih menunggu di luar gedung bersama sang ibu dan bahkan menutup telinga agar tidak mendengar hasil. “Saat tahu aku juara satu, aku langsung menangis dan memeluk sahabatku yang jadi juara dua. Kami punya nilai sama, hanya beda di detail teknik,” ujarnya dengan suara bergetar.
Bagi Tsabita, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah amanah. Ia merasa kemenangan ini membawa tanggung jawab moral untuk terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi yang lain. “Aku ingin tampil maksimal di tingkat provinsi nanti. Ini bukan akhir, tapi awal langkah baru,” katanya.
Ia juga membagikan pesan untuk teman-temannya di sekolah:
“Kalau kamu merasa sedang berada di titik terendah, jangan berhenti. Bisa jadi besok adalah harimu. Percaya dan teruslah bergerak. Reporter: Ilaika Dwi Ningrum
Editor: Tim Jurnalistik SMAN 1 Tempeh
