Cegah Anak Putus Sekolah Sejak Dini, Sleman Andalkan “Gandheng ATS” dengan Sistem Peringatan Otomatis

Globaltoday.id, Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil langkah baru untuk menekan angka anak tidak sekolah (ATS) melalui pemanfaatan teknologi digital. Pemkab Sleman resmi meluncurkan Gandheng ATS (Gerakan Andhum Handarbeni Penanganan Anak Tidak Sekolah) yang dilengkapi sistem Early Warning System (EWS).

Aplikasi tersebut diluncurkan Bupati Sleman Harda Kiswaya di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Rabu (5/8/2026). Kehadiran aplikasi ini diharapkan mampu mengubah pola penanganan anak yang berpotensi putus sekolah dari sebelumnya bersifat reaktif menjadi deteksi dan intervensi sejak dini.

Melalui sistem EWS, sekolah dan pemerintah daerah dapat memperoleh peringatan apabila muncul indikator yang menunjukkan seorang siswa mulai berisiko meninggalkan pendidikan.

Salah satu indikator yang dapat menjadi perhatian adalah meningkatnya ketidakhadiran siswa. Ketika pola absensi menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, sistem dapat memberikan notifikasi peringatan kepada pihak terkait sehingga langkah penanganan bisa segera dilakukan.

Bukan Sekadar Aplikasi, Tapi Sistem Deteksi Masalah Anak

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, mengatakan Gandheng ATS dirancang bukan hanya sebagai perangkat pencatat data, tetapi menjadi instrumen untuk membangun pola penanganan anak tidak sekolah yang lebih terintegrasi.

Menurutnya, filosofi “Andhum Handarbeni” menjadi dasar gerakan tersebut, yakni membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan pendidikan anak.

“Gandheng ATS mengusung filosofi Andhum Handarbeni—berbagi rasa, memiliki, dan bertanggung jawab bersama. Target kami jelas, mewujudkan Sleman bebas ATS,” tegas Mustadi.

Implementasi program tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 dan Peraturan Bupati Sleman Nomor 40 Tahun 2024.

Pelaksanaannya dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yakni memperkuat regulasi dan SOP pelayanan terpadu, membangun koordinasi lintas sektor, serta memanfaatkan teknologi untuk melakukan pemantauan secara berkelanjutan.

Absensi Naik, Sistem Beri Sinyal

Salah satu kekuatan Gandheng ATS terletak pada kemampuannya memberikan sinyal awal ketika seorang anak menunjukkan gejala berisiko putus sekolah.

Namun, peringatan dari sistem bukan menjadi dasar untuk langsung memberikan label kepada siswa.

Data tersebut selanjutnya perlu diverifikasi di lapangan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Sebab, anak yang mulai sering tidak masuk sekolah belum tentu semata-mata disebabkan rendahnya motivasi belajar. Ada kemungkinan persoalan ekonomi keluarga, masalah hubungan dalam keluarga, kondisi kesehatan, lingkungan sosial, hingga persoalan lainnya.

Dengan demikian, teknologi digunakan sebagai pintu masuk untuk menemukan masalah, sementara penyelesaiannya dilakukan melalui intervensi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

Masalah Ekonomi hingga Kesehatan Akan Dipetakan

Pemkab Sleman menyiapkan pola penanganan lintas sektor agar anak yang teridentifikasi berisiko tidak dibiarkan menghadapi persoalannya sendiri.

Setelah data mendapatkan validasi, pemerintah dapat memetakan faktor penyebab sekaligus menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.

Pendekatan ini membuat penanganan ATS tidak hanya berorientasi pada data jumlah anak, tetapi juga berusaha menjawab pertanyaan mendasar: mengapa seorang anak berhenti atau berpotensi berhenti sekolah?

Dengan sistem pemantauan digital, perkembangan penanganan juga dapat dievaluasi secara lebih terukur.

Bupati: Jangan Berhenti pada Peluncuran Aplikasi

Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan agar Gandheng ATS tidak berhenti sebagai inovasi digital yang hanya bagus pada saat peluncuran.

Menurutnya, teknologi harus benar-benar digunakan untuk menyelesaikan persoalan pendidikan yang terjadi di masyarakat.

Harda juga menaruh perhatian terhadap pendidikan nonformal sebagai salah satu jalur bagi anak yang tidak melanjutkan pendidikan melalui sekolah reguler.

Ia meminta kualitas pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terus diperkuat.

“Kita harus memastikan mutu pendidikan di PKBM sama baiknya dengan sekolah reguler,” tegas Harda.

Dunia Usaha Diajak Ikut Menjadi Bagian dari Solusi

Upaya menekan angka anak tidak sekolah juga mendapat dukungan dari kalangan dunia usaha.

Ketua Kadin Sleman, Yudi Prihantana, menyambut positif pemanfaatan teknologi dalam penanganan ATS. Menurutnya, persoalan pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia dan daya saing daerah.

Dunia usaha pun menyatakan kesiapan untuk berkontribusi melalui pengembangan program vokasi maupun pemanfaatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai sektor terkait diharapkan mampu menciptakan pola penanganan anak tidak sekolah yang lebih cepat dan tepat sasaran.

Dari Sekadar Mendeteksi, Menjadi Gerakan Menyelamatkan Masa Depan Anak

Peluncuran Gandheng ATS menunjukkan bahwa persoalan putus sekolah mulai ditempatkan sebagai persoalan yang harus dideteksi sebelum terlambat.

Ketika sistem memberikan sinyal, sekolah dan pemerintah memiliki kesempatan lebih besar untuk mencari tahu persoalan yang dihadapi anak dan memberikan solusi sebelum anak benar-benar keluar dari pendidikan.

Dengan perpaduan data, teknologi EWS, intervensi sosial, pendidikan nonformal, dan keterlibatan dunia usaha, Pemkab Sleman berharap target mewujudkan Sleman bebas anak tidak sekolah bukan sekadar slogan, tetapi dapat diwujudkan melalui penanganan yang terukur dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *