Globaltoday.id, Lumajang – Tradisi Lebaran Syawal atau yang dikenal dengan Lebaran Ketupat masih terus dilestarikan oleh masyarakat Jawa, khususnya di wilayah pedesaan. Perayaan ini digelar pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idulfitri dan menjadi bagian penting dalam rangkaian budaya pasca-Lebaran.
Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi ajang berkumpul bersama keluarga dan tetangga, tetapi juga sarat nilai spiritual dan filosofi kehidupan. Dalam tradisi ini, masyarakat menyajikan hidangan khas seperti ketupat, lontong, dan lepet yang masing-masing memiliki makna mendalam.
Ketupat, misalnya, diyakini berasal dari istilah “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang membungkus ketupat melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isi beras putih di dalamnya mencerminkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.
Sementara itu, lontong dimaknai sebagai simbol kelurusan dan kejujuran. Bentuknya yang padat menggambarkan harapan agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan niat yang lurus dan sederhana.
Adapun lepet yang berbahan dasar ketan dan memiliki tekstur lengket, menjadi simbol eratnya persaudaraan dan kuatnya ikatan silaturahmi antar sesama.
Sesepuh adat setempat, Mbah Condro Sasongko, menuturkan bahwa tradisi kupatan bukan sekadar budaya turun-temurun, melainkan sarat pesan moral yang harus terus dijaga.
“Ketupat itu bukan hanya makanan, tapi pengingat bagi manusia untuk selalu ‘ngaku lepat’, mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Anyaman janur itu ibarat jalan hidup manusia yang penuh lika-liku, tapi di dalamnya ada kesucian hati yang harus kita jaga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tradisi kupatan mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kerendahan hati dalam kehidupan bermasyarakat.
“Melalui kupatan, kita diajak untuk saling berbagi, mempererat silaturahmi, dan tidak lupa bahwa manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Maka dari itu, tradisi ini harus terus dilestarikan,” tambahnya.
Hingga kini, tradisi Lebaran Ketupat tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Jawa. Selain sebagai warisan leluhur, tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan, saling memaafkan, serta menjaga harmoni dalam kehidupan sosial.
