Bupati Lumajang: Karakter Adalah Kompas Generasi, Bukan Sekadar Nilai di Atas Kertas

Globaltoday.id, Lumajang – Penguatan karakter kembali ditegaskan sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Lumajang. Hal itu disampaikan Bupati Lumajang, Indah Amperawati, saat menghadiri Haul Pendiri Yayasan Nurul Masyithah di Pendopo Arya Wiraraja, Senin (2/3/2025).

Dalam sambutannya, Bupati menekankan bahwa pendidikan tidak boleh terjebak pada capaian akademik semata. Menurutnya, kecerdasan intelektual tanpa dibarengi karakter yang kokoh justru berpotensi kehilangan arah.

“Pendidikan bukan hanya soal angka di rapor atau deretan prestasi. Yang paling mendasar adalah karakter. Tanpa itu, kecerdasan tidak memiliki pijakan,” tegasnya di hadapan pengurus dan keluarga besar yayasan.

Ia menggarisbawahi pentingnya pembentukan akhlakul karimah sebagai inti dari proses belajar-mengajar. Nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, serta kepedulian sosial harus ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Menurut Bupati, lembaga pendidikan berbasis keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Melalui pendekatan spiritual dan keteladanan, pendidikan karakter diyakini dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Ia juga menyoroti tantangan era modern yang semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat, kata dia, menuntut generasi muda memiliki ketahanan moral agar tidak mudah terpengaruh dampak negatif perkembangan teknologi.

Dalam perspektif pembangunan daerah, investasi terbesar bukan hanya pada infrastruktur fisik, melainkan pada pembangunan manusia berintegritas. Generasi yang berkarakter dinilai mampu menjaga harmoni sosial, meningkatkan daya saing, serta memberi kontribusi nyata bagi kemajuan daerah.

Bupati pun mengingatkan agar penguatan karakter tidak berhenti pada wacana. Nilai-nilai tersebut harus diimplementasikan dalam budaya sekolah, diperkuat melalui keteladanan guru, serta didukung sinergi antara sekolah dan keluarga.

“Karakter tidak lahir dari teori, tetapi dari pembiasaan dan contoh nyata,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *