Dari Debu Semeru, Warga Kamarkajang Bangun Jalan Harapan dengan Dana CSR Sopir Truk

Globaltodai.is, Lumajang – Di tengah sisa trauma erupsi Semeru 2021, warga Dusun Kamarkajang perlahan bangkit. Bukan dengan janji, melainkan dengan kerja nyata. Sebuah jalan sepanjang 350 meter dengan lebar 4 meter dan ketebalan 25 sentimeter kini sedang dibangun untuk menghubungkan dusun tersebut hingga ke jalan nasional.

Hingga saat ini, sekitar 120 meter telah rampung dikerjakan. Artinya, masih tersisa 230 meter lagi sebelum akses tersebut benar-benar tembus dan mempermudah mobilitas warga.

Pembangunan ini bukan berasal dari dana desa. Menurut Timlak warga setempat, anggaran sepenuhnya berasal dari CSR para sopir truk pasir yang melintas di kawasan tambang yang dikelola masyarakat Kamarkajang.

“Ini murni dari CSR sopir truk pasir, bukan dana desa. Kami ingin jalan ini kuat dan bertahan lama,” ujar Timlak kepada awak media.

Berbeda dari kesan swadaya gotong royong, pekerjaan ini dilakukan secara profesional. Para tukang dibayar penuh agar hasilnya maksimal dan sesuai standar konstruksi.

“Semua pekerja dibayar. Tidak ada gotong royong dalam pekerjaan teknisnya. Kami ingin hasilnya benar-benar kuat,” tegasnya.

Dengan ketebalan mencapai 25 sentimeter, jalan tersebut dirancang kokoh untuk jangka panjang. Harapannya, jalan ini tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga membuka kembali denyut ekonomi warga.

Harapan yang Tumbuh di Tengah Ketidakpastian

Sejak erupsi Semeru 2021, pembangunan di wilayah ini nyaris tak tersentuh. Banyak warga direlokasi ke hunian tetap (huntap) di Desa Sumbermujur. Namun karena lokasi huntap cukup jauh dari ladang dan pekerjaan, sebagian warga memilih kembali ke rumah asalnya di Kamarkajang.

Bu Sugiati, salah satu warga, tak mampu menyembunyikan rasa harunya melihat jalan mulai dibangun.

“Sudah lama tidak ada pembangunan sejak erupsi 2021. Semoga jalan ini bisa sampai ke sekolah saya, SMP Islam,” ujarnya penuh harap.

Hal serupa disampaikan H. Suud. Ia menyampaikan terima kasih mendalam kepada para donatur, khususnya sopir truk pasir yang telah ikut membantu.

“Kami sangat berterima kasih kepada para sopir truk yang rela menyumbang. Ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat meninjau kembali status zona merah di wilayah tersebut.

“Kami berharap Pemkab Lumajang dan Bupati bisa mempertimbangkan perubahan status zona merah menjadi zona hijau. Apapun syaratnya, insya Allah warga siap memenuhinya,” tuturnya.

Di Antara Dua Desa, di Tengah Kebingungan Administrasi

Persoalan lain yang dihadapi warga adalah status administratif pascarelokasi. Secara wilayah, Kamarkajang masih berada di Desa Sumberwuluh. Namun sebagian warganya telah tercatat sebagai warga Desa Sumbermujur karena relokasi.

Kondisi ini membuat warga kerap merasa “menggantung” dalam urusan pelayanan.

Ketua GRIB Jaya, Holik, yang ikut mengawal kelancaran pembangunan, mengatakan warga tak ingin terus bergantung dalam ketidakpastian.

“Kalau menunggu dana pemerintah desa, mungkin akan sulit. Jadi kami berinisiatif membangun sendiri,” ujarnya.

Jalan Hari Ini, Ambulans Esok Hari

Tak berhenti pada pembangunan jalan, warga Kamarkajang juga memiliki mimpi berikutnya: menghadirkan ambulans untuk dusun mereka.

“Selama ini kalau ada warga sakit, kami bingung mau menghubungi ambulans desa mana. Ke Sumberwuluh kami bukan lagi warganya, ke Sumbermujur terlalu jauh,” kata Holik.

Karena itu, setelah jalan selesai, warga bertekad menggalang dukungan untuk pengadaan ambulans dusun.

“Doakan agar rencana ini segera terwujud. Ini demi keselamatan warga,” tutupnya.

Di Kamarkajang, jalan bukan sekadar beton dan semen. Ia adalah simbol harapan, kemandirian, dan tekad untuk bangkit dari bayang-bayang bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *