Kanjeng Nyai Djimat, Saksi Abadi Keraton Yogyakarta Sejak Abad ke-18

Jawa Timur, Lumajang315 Dilihat

Globaltoday.id, Yogyakarta – Di antara koleksi kereta pusaka milik Keraton Yogyakarta, satu nama yang terus menjadi pusat perhatian adalah Kanjeng Nyai Djimat. Bukan hanya karena keanggunannya, tetapi juga karena nilai sejarah dan filosofi yang melekat di dalamnya. Kereta ini merupakan kereta pusaka utama dan tertua yang digunakan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Hamengku Buwono III.

Diperoleh dari hadiah Gubernur Jenderal Jacob Mossel pada tahun 1750–1761, kereta ini menjadi kereta pertama yang digunakan dalam berbagai upacara resmi kerajaan. Keunikan nama Kanjeng Nyai Djimat sendiri berasal dari ornamen di bagian depan kereta, yakni sebuah patung putri yang menopang papan di depan tempat duduk kusir, memberikan kesan sakral sekaligus elegan.

Setelah masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VI, kereta ini tidak lagi digunakan dalam upacara resmi. Namun demikian, posisinya tidak tergantikan sebagai kereta utama dan kereta pusaka yang paling dihormati. Setiap bulan Sura (Muharram), kereta ini akan dibersihkan secara khusus sebagai bagian dari ritual sakral keraton. Sementara itu, kereta kedua akan dipilih secara bergantian.

“Kereta Kanjeng Nyai Djimat bukan sekadar alat transportasi masa lalu, tapi juga simbol kejayaan, kehormatan, dan kesinambungan budaya Jawa,” ujar R. Wironegoro, juru pelihara koleksi kereta pusaka Keraton Yogyakarta.

Bagi masyarakat dan wisatawan, kehadiran kereta ini di museum kereta Keraton menjadi pengingat akan peradaban besar yang pernah tumbuh di tanah Jawa. Tidak hanya menyimpan nilai seni tinggi, tetapi juga menjadi jejak sejarah yang masih hidup hingga kini.                                                                          Kereta Kanjeng Nyai Djimat bukan hanya tinggalan masa lalu, tetapi juga warisan budaya yang menjembatani sejarah dan masa depan. Dalam diamnya, ia bercerita tentang kebesaran raja-raja Jawa, tentang kehormatan yang dijaga, dan tentang tradisi yang tetap hidup di tengah arus zaman. ( Dodik )