Globaltoday.id, Lumajang, 31 Maret 2025 – Usai menunaikan Salat Idulfitri, sebagian besar masyarakat Jawa berbondong-bondong menuju makam keluarga untuk melaksanakan tradisi *nyekar*. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia, sekaligus menjadi momen refleksi spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dalam kultur Jawa, diyakini bahwa selama bulan Ramadan, roh para leluhur pulang ke rumah mereka untuk “berkumpul” dengan keluarga. Namun, pada tanggal 1 Syawal, roh tersebut kembali ke alam kubur. Oleh karena itu, masyarakat merasa berkewajiban untuk mengantarkan mereka kembali dengan doa dan taburan bunga di atas pusara.
Salah satu peziarah, Siti Rohmah (54), mengungkapkan bahwa nyekar sudah menjadi kebiasaan turun-temurun di keluarganya. “Sejak kecil saya diajarkan oleh orang tua untuk nyekar setelah Salat Ied. Ini cara kami mengenang mereka dan mendoakan agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ujarnya saat ditemui di TPU Condro, Pasirian.
Prosesi nyekar umumnya diawali dengan membersihkan makam, menabur bunga, dan membaca doa atau tahlil bersama keluarga. Di beberapa daerah, bahkan ada tradisi membawa makanan khas Lebaran untuk dibagikan kepada peziarah lain sebagai simbol berbagi keberkahan.
Antropolog budaya, Dr. Supriyanto, menjelaskan bahwa tradisi nyekar bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk kearifan lokal yang memperkuat hubungan antargenerasi. “Ini adalah manifestasi dari nilai *sangkan paraning dumadi*, bahwa manusia harus selalu ingat asal-usulnya dan tidak melupakan jasa leluhur,” katanya.
Meskipun zaman terus berubah, tradisi nyekar tetap lestari di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan nilai kekeluargaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.Dodik
