“Lulusan Paket C Raih Nilai Tertinggi: Ada Apa di Balik Ujian Perangkat Desa Nguter?”

Jawa Timur, Lumajang547 Dilihat

Globaltoday.id,  Lumajang – Ujian tulis penjaringan dan penyaringan perangkat Desa Nguter, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang pada 20 November 2025 kini menjadi sorotan tajam publik. Investigasi awal Globaltoday.id menemukan sejumlah kejanggalan yang memunculkan dugaan kuat bahwa proses seleksi jabatan Kepala Dusun Krajan Tengah tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dari delapan peserta, Agus Wahyudi, lulusan paket C, mendadak muncul sebagai peraih nilai tertinggi dengan skor 96—nyaris sempurna. Sementara peserta lainnya, yang sebagian besar berlatar belakang sarjana, justru tertinggal jauh dengan rentang nilai 41 hingga 73.

Temuan-temuan di lapangan dan kesaksian warga membuka potret ganjil yang tak bisa diabaikan.

Dua Hari Sebelum Ujian, Soal Diduga Bocor

Sejumlah warga Desa Nguter mengaku mendengar rumor bahwa soal ujian telah bocor dua hari sebelum pelaksanaan. Informasi itu bukan sekadar bisik-bisik, melainkan cerita yang diulang oleh beberapa sumber independen yang ditemui tim investigasi.

“Cerita soal bocor itu ramai dibicarakan. Katanya ada yang sudah pegang kisi-kisi bahkan soal lengkap,” ujar salah satu warga, meminta agar identitasnya dirahasiakan.

Warga lainnya menguatkan:

“Kejanggalannya banyak. Salah satunya, ada peserta yang katanya sudah syukuran pagi sebelum ujian karena merasa pasti lulus. Dari situ saja masyarakat sudah curiga.”

Tradisi tasyakuran sebelum pengumuman kelulusan tentu bukan hal umum, apalagi dilakukan sebelum ujian berlangsung.

Tingkat Kesulitan Soal Tinggi, Peserta Sarjana Justru Kalah

Hasil investigasi juga menemukan bahwa beberapa peserta kaget dengan model soal campuran yang disusun panitia:

* 80 pilihan ganda

* 20 uraian

Menurut peserta, tingkat kesulitan soal cukup tinggi, terutama pada bagian uraian dan pengetahuan umum.

“Banyak soal  yang berkaitan dengan hafalan undang undang dan administrasi pemerintahan yang levelnya tidak ringan. Yang mahasiswa saja mikir berat,” tutur salah satu peserta.

Di sisi lain, seorang peserta dengan latar belakang pendidikan paket C mampu meraih nilai 96, capaian yang bagi banyak pihak terasa tidak masuk akal tanpa persiapan luar biasa—atau hal lain.

Panitia Mengakui Soal Dibuat Internal

Wakil Ketua Panitia, Mulyono, memberikan keterangan yang semakin membuka ruang tanya.

“Soal itu panitia yang buat. Tapi sudah dikonsultasikan ke kecamatan dan DPMD,” ujarnya kepada wartawan.

Namun, ia tidak merinci seperti apa proses konsultasi tersebut, siapa penyusun utama, dan bagaimana pengawasan keamanan naskah soal. Di sinilah dugaan kebocoran semakin mendapatkan ruang spekulasi.

Sekcam Pasirian: ‘Saya Baru Menjabat, Tahapan Sudah Berjalan’

Ketua Panwas, sekaligus Sekcam Pasirian yang baru dilantik, Ahmad Muizul Mahsus, S.Sos,  mengaku tidak terlibat dari awal.

“Saya baru saja menjabat. Saat saya masuk, tahapan sudah mendekati ujian tulis. Dari yang saya lihat, ya sesuai,” katanya.

Warga Mendesak: Tunda Pelantikan, Audit Harus Turun

Masyarakat Desa Nguter kini kompak meminta Bupati Lumajang untuk menunda rekomendasi pelantikan.

“Kami minta Bupati jangan terburu-buru memberi rekom pelantikan . Harus ada audit investigasi dari DPMD dan Inspektorat. Kalau tidak, kami yakin ada permainan di balik ujian ini,” ujar warga lainnya.

Kecurigaan warga bukan tanpa alasan. Dari pola soal dibuat panitia , nilai, rumor bocoran, tasyakuran sebelum ujian, hingga pengawasan longgar, semuanya membentuk rangkaian kejanggalan yang layak diselidiki lebih dalam.

Kesimpulan Investigasi Awal

Dari hasil penelusuran Globaltoday.id, setidaknya terdapat tiga indikasi kejanggalan serius:

1. Nilai tidak proporsional — peserta non-sarjana meraih skor ekstrem, jauh di atas peserta sarjana.

2. Dugaan kebocoran soal — rumor konsisten muncul dari berbagai sumber warga.

3. Proses penyusunan soal dilakukan internal panitia — memperbesar risiko manipulasi.

Semua temuan ini mengarah pada satu kesimpulan: perlu dilakukan audit investigatif sebelum keputusan pelantikan dibuat.

Jika benar terjadi permainan dalam seleksi perangkat desa, maka bukan hanya merugikan peserta lain, tetapi juga mencederai integritas pemerintahan desa serta kepercayaan publik.

Globaltoday.id akan terus melakukan pendalaman dan meminta tanggapan dari DPMD, Inspektorat, dan Pemerintah Kabupaten Lumajang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *