Lebaran Serba Baru: Antara Tradisi, Gengsi, dan Perubahan di Era Digital

Jawa Timur, Lumajang430 Dilihat

Globaltoday.id, Lumajang, 30 Maret 2025 – Lebaran selalu identik dengan segala sesuatu yang serba baru. Pakaian baru, sandal baru, tas baru, bahkan perabotan rumah tangga pun ikut diperbarui demi menyambut hari kemenangan. Tradisi ini masih kuat terutama di pedesaan, di mana suasana Lebaran menjadi ajang gengsi sesaat.

Bagi sebagian masyarakat, membeli barang-barang baru saat Lebaran bukan sekadar kebutuhan, melainkan simbol keberkahan dan kesuksesan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. “Sejak dulu, kami selalu menyiapkan pakaian baru untuk Lebaran. Rasanya kurang lengkap kalau tidak ada yang baru,” ujar Surati (45), warga desa Condro di Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Tak hanya sandang, perabot rumah tangga seperti sofa, meja, atau bahkan cat rumah pun sering diganti agar terlihat lebih segar saat menerima tamu. Di beberapa daerah, fenomena ini menjadi semacam “perlombaan” terselubung untuk menunjukkan status ekonomi keluarga.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi berkumpul dan bersilaturahmi secara langsung mulai memudar. Jika dahulu rumah-rumah ramai dengan kunjungan sanak saudara, kini suasana Lebaran terasa lebih sepi. Perkembangan teknologi, terutama ponsel dan media sosial, telah mengubah cara masyarakat bersilaturahmi.

“Sekarang banyak yang cukup mengirim pesan lewat WhatsApp atau memposting ucapan Lebaran di media sosial. Kunjungan langsung semakin berkurang,” kata Heri (50), seorang tokoh masyarakat di Lumajang .

Sosiolog budaya, Dr. Wibowo Santoso, menyebut perubahan ini sebagai dampak dari digitalisasi sosial. “Dulu, Lebaran adalah momentum mempererat tali silaturahmi secara fisik. Namun, kini peran itu diambil alih oleh teknologi. Masyarakat lebih memilih kepraktisan daripada interaksi langsung,” jelasnya.

Meski tradisi serba baru masih bertahan, esensi Lebaran sebagai momen kebersamaan mulai mengalami pergeseran. Tantangannya kini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara modernisasi dan nilai-nilai budaya agar Lebaran tetap menjadi ajang mempererat hubungan, bukan sekadar gengsi dan formalitas digital belaka. Dodik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *