GLOBALTODAY.ID | LUMAJANG – Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu strategi penting dalam memperkenalkan potensi wisata desa kepada masyarakat luas. Melalui penguatan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), desa diharapkan mampu mengembangkan promosi pariwisata yang informatif, kreatif, dan memberdayakan masyarakat lokal.
Hal tersebut menjadi bagian dari materi Pelatihan Tata Kelola Bisnis dan Pemasaran Pengelolaan Destinasi Pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang di Hotel Aston Inn, Selasa (22/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, materi mengenai “Pemberdayaan KIM Desa dalam Digitalisasi Promosi Pariwisata Desa” disampaikan oleh Muhamad Khoirul Anam, praktisi komunikasi publik, jurnalistik, fotografi, dan media dari Lumajang, Jawa Timur.
KIM Desa Didorong Mengembangkan Potensi Lokal
Materi pelatihan menekankan bahwa setiap desa memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Potensi tersebut tidak hanya berupa keindahan alam, tetapi juga budaya, tradisi, kuliner, UMKM, pertanian, kreativitas warga, serta sejarah dan kearifan lokal.
Namun, potensi tersebut perlu dikemas melalui informasi dan cerita yang menarik agar dapat dikenal oleh masyarakat luas.
“Dari potensi menjadi cerita, dari cerita menjadi daya tarik,” menjadi salah satu gagasan utama dalam materi pemberdayaan KIM desa.
KIM diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengelola media sosial, tetapi juga menjadi penggerak informasi, dokumentasi, publikasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pengelolaan informasi yang tepat, KIM dapat membantu memperkenalkan destinasi wisata sekaligus mengangkat produk dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Digitalisasi Menjadi Bagian dari Perjalanan Wisatawan
Dalam materi pelatihan, dijelaskan bahwa perilaku wisatawan telah mengalami perubahan. Sebelum mengunjungi suatu destinasi, calon wisatawan kini dapat mencari berbagai informasi melalui platform digital.
Informasi yang dibutuhkan meliputi lokasi, foto dan video, ulasan, harga, akses, kuliner, waktu kunjungan, hingga pengalaman pengunjung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pelengkap promosi wisata, melainkan telah menjadi bagian dari perjalanan wisatawan.
Oleh sebab itu, pengelola destinasi perlu menyediakan informasi yang akurat, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan calon pengunjung.
Strategi Konten dengan Formula Hook–Story–Value–Action
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah formula pembuatan konten Hook–Story–Value–Action.
Formula tersebut meliputi:
Hook: Menarik perhatian audiens.
Story: Menyampaikan cerita mengenai potensi atau pengalaman wisata.
Value: Memberikan informasi yang bermanfaat.
Action: Mengajak audiens melakukan tindakan yang relevan.
Strategi tersebut dapat diterapkan dalam mempromosikan destinasi wisata, tradisi lokal, produk UMKM, serta kegiatan masyarakat.
Konten promosi diharapkan tidak hanya menampilkan gambar, tetapi juga menyampaikan cerita dan informasi yang dapat membangun kepercayaan calon wisatawan.
Satu Potensi Bisa Menjadi Banyak Konten
Pelatihan tersebut juga memperkenalkan konsep pengembangan konten secara terencana melalui pendekatan:
1 desa → 10 potensi → 30 konten → 30 hari.
Tahapan tersebut dapat dimulai dengan memetakan potensi desa, memilih potensi prioritas, melengkapi data dan cerita, kemudian memproduksi konten secara bertahap.
Pembuatan konten tidak harus menggunakan peralatan mahal. Telepon pintar, data yang benar, serta kemampuan menyampaikan cerita dapat menjadi modal awal dalam membangun promosi digital.
Dengan perencanaan yang baik, satu potensi desa dapat dikembangkan menjadi berbagai konten untuk sejumlah platform digital.
Promosi Wisata Harus Memberdayakan Masyarakat
Materi pelatihan juga menyoroti pendekatan 3E + 1N dalam promosi yang memberdayakan, yaitu:
1. Educate: Memberikan informasi wisata yang benar.
2. Empower: Mengangkat pelaku lokal dan UMKM.
3. Enlighten: Meluruskan informasi keliru serta mencegah hoaks.
4. Nationalism: Menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya dan potensi lokal.
Pendekatan tersebut menempatkan promosi wisata tidak hanya sebagai upaya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan literasi informasi dan memperkuat peran masyarakat desa.
“Promosi wisata bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga membangun literasi dan keberdayaan masyarakat,” menjadi pesan penting dalam materi yang disampaikan.
Membangun Ekosistem Pariwisata secara Kolaboratif
Pengembangan promosi wisata desa membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah desa, KIM, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), UMKM, pemuda, masyarakat, serta media dan platform digital memiliki peran yang saling mendukung.
Pemerintah desa dapat berperan melalui penyediaan data dan dukungan kebijakan. KIM bertugas mengelola informasi dan publikasi, sedangkan Pokdarwis dapat memperkuat pengalaman wisata serta pengelolaan destinasi.
Sementara itu, pelaku UMKM berperan menyediakan produk lokal, sedangkan pemuda dan masyarakat dapat berkontribusi melalui kreativitas serta pengembangan konten.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama pengembangan pariwisata, bukan sekadar objek promosi.
Dorong Rencana Aksi Promosi Selama 30 Hari
Sebagai langkah penerapan materi, peserta diperkenalkan dengan rencana aksi promosi selama 30 hari yang dapat dimulai dari desa masing-masing.
Rencana tersebut mencakup pemetaan 10 potensi desa pada minggu pertama, pemilihan potensi prioritas pada minggu kedua, produksi konten pada minggu ketiga, serta publikasi dan evaluasi pada minggu keempat.
Melalui langkah sederhana dan terukur, pengelola destinasi diharapkan dapat membangun identitas digital yang lebih kuat sekaligus memperkenalkan potensi wisata kepada masyarakat luas.
Pelatihan Tata Kelola Bisnis dan Pemasaran Pengelolaan Destinasi Pariwisata yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya tata kelola, strategi pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan destinasi wisata.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan kolaboratif, potensi desa diharapkan dapat berkembang menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian lokal.






