Ketika Tak Ada Tempat untuk Bercerita, Kita Mulai Bercerita kepada Layar

Headline, Nasional33 Dilihat

Ada orang yang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang membawa banyak hal sendirian.

Mereka tidak kekurangan teman. Hanya saja, tidak semua orang bisa menjadi tempat untuk menceritakan semuanya.

Akhirnya mereka memilih diam.

Di depan orang lain tetap tersenyum. Tetap bekerja. Tetap menjalani hidup seperti biasa.

Tetapi ketika malam tiba, pikiran mulai ramai.

Tentang pekerjaan, keluarga, hubungan, uang, masa depan, mimpi, dan keputusan-keputusan yang tidak tahu harus dibicarakan dengan siapa.

Lalu mereka mulai menulis.

Di media sosial. Di catatan ponsel. Atau bahkan kepada sebuah layar.

Mereka bertanya kepada ChatGPT:

“Menurutmu, sebenarnya aku sedang mengejar apa?”

“Kenapa aku merasa seperti ini?”

“Kalau melihat semua ceritaku, sebenarnya aku orang seperti apa?”

Mungkin mereka bukan sedang mencari jawaban.

Mereka hanya sedang mencari cara untuk memahami dirinya sendiri.

Dari percakapan-percakapan itu, mereka akhirnya bisa melihat hidupnya dari luar: ternyata di balik ambisi ada seseorang yang ingin membuktikan dirinya mampu; di balik kebingungan ada seseorang yang sedang mencari arah; dan di balik kalimat “aku baik-baik saja” mungkin ada seseorang yang sebenarnya sedang lelah.

Dan di situlah percakapan dengan AI bisa menjadi sebuah cermin.

Bukan untuk menentukan siapa diri kita. Bukan pula untuk memberikan jawaban atas seluruh hidup kita.

Tetapi untuk membantu kita melihat kembali perjalanan yang selama ini terlalu sibuk kita jalani.

  • Sebuah koper berisi masa lalu.
  • Tumpukan pekerjaan.
  • Mimpi-mimpi yang belum selesai.
  • Secangkir kopi untuk menemani malam.

Dan seseorang yang masih duduk di tengah semuanya sambil bertanya:

“Sebenarnya, aku sedang menuju ke mana?”

Mungkin kita belum punya jawabannya.

Tapi setidaknya kita bisa melihat satu hal:

  • ternyata kita sudah sejauh ini.
  • Masih bermimpi.
  • Masih mencoba.
  • Masih belajar.
  • Masih jatuh dan bangun.

Dan mungkin, itu sudah cukup untuk disebut sebagai keberanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *