LUMAJANG, GLOBALTODAY.ID – Desa ternyata bukan hanya tempat lahirnya berbagai potensi ekonomi dan budaya. Dari ruang-ruang komunitas di tingkat desa, karya jurnalistik dan kreativitas digital juga mampu menembus panggung nasional.
Hal itu dibuktikan dua Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) asal Kabupaten Lumajang yang berhasil mengukir prestasi dalam ajang Genbest 2026 bertema “Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat”.
KIM Desa Tukum Mandiri berhasil meraih Juara 2 Nasional Lomba Artikel Kategori Komunitas, melalui karya berjudul “TBC Tak Terlihat, Kepedulian Harus Terlihat”.
Sementara itu, KIM Desa Kertosari berhasil meraih Juara Favorit Nasional Lomba Video Kreatif Kesehatan Kategori Komunitas.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam malam Awarding Genbest 2026 yang berlangsung di Lume Coffee & Lounge, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2026).
Dari Persoalan Desa Menjadi Pesan Nasional
Prestasi dua KIM Lumajang ini memiliki cerita tersendiri. Karya yang mereka hasilkan tidak lahir dari pusat kota ataupun industri media besar, melainkan dari komunitas masyarakat di tingkat desa.
Namun, isu yang diangkat justru memiliki relevansi luas, terutama mengenai kesehatan dan pentingnya masyarakat memperoleh informasi yang benar.
KIM Desa Tukum Mandiri memilih isu tuberkulosis (TBC) sebagai materi artikel. Melalui tulisan “TBC Tak Terlihat, Kepedulian Harus Terlihat”, mereka berusaha mengubah persoalan kesehatan yang sering dianggap jauh menjadi isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketua KIM Desa Tukum Mandiri, Muhammad Luqman, mengatakan pemilihan tema TBC dilatarbelakangi keinginan untuk menghadirkan informasi kesehatan yang tidak sekadar dibaca, tetapi mampu menumbuhkan kepedulian.
Menurutnya, informasi mengenai TBC harus dikemas dengan bahasa yang sederhana sehingga masyarakat lebih mudah memahami persoalan tersebut dan terdorong mencari informasi yang benar.
“Informasi tentang TBC tidak berhenti sebagai informasi, tetapi bisa membuat orang lebih peduli,” ujarnya.
Kertosari Pilih Kekuatan Visual
Jika KIM Tukum Mandiri menyampaikan pesan melalui tulisan, KIM Desa Kertosari mengambil jalur berbeda.
Pesan mengenai kesehatan dikemas dalam bentuk video kreatif, memanfaatkan kekuatan gambar dan audiovisual untuk menjangkau masyarakat yang kini semakin terbiasa memperoleh informasi melalui platform digital.
Ketua KIM Desa Kertosari, Kofan Muklis, menyebut penghargaan tersebut menjadi tambahan motivasi untuk terus menghasilkan konten yang menarik sekaligus memberikan manfaat.
Baginya, sebuah konten tidak cukup hanya memiliki tampilan yang menarik. Pesan yang dibawa juga harus mampu diterima dan memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat.
“Yang penting bukan hanya videonya menarik, tetapi setelah melihat, masyarakat mendapat sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Pesan kesehatan yang sebelumnya identik dengan tulisan formal kini dapat dikemas dalam bentuk visual yang lebih ringan dan mudah dibagikan.
Ribuan Karya Bersaing
Persaingan dalam Genbest 2026 juga tidak ringan. Ajang tersebut menerima sekitar 1.600 karya artikel dan sekitar 800 karya video dari berbagai daerah di Indonesia.
Peserta tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga komunitas masyarakat.
Untuk kategori komunitas, peserta di antaranya berasal dari Komunitas Informasi Masyarakat (KIM), PKK, Posyandu dan Karang Taruna.
Dengan jumlah peserta dan karya yang cukup besar tersebut, keberhasilan dua KIM Lumajang menunjukkan bahwa kreativitas komunitas di tingkat desa memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan perhatian di tingkat nasional.
Karya mereka juga harus melewati proses penilaian yang melibatkan unsur kesehatan, media, komunikasi hingga industri kreatif.
Bukan Sekadar Mengejar Juara
Bagi kedua KIM tersebut, penghargaan bukan sekadar persoalan mendapatkan trofi atau predikat juara.
Lebih jauh, kompetisi tersebut menjadi ruang untuk membuktikan bahwa komunitas masyarakat dapat mengambil peran dalam menyampaikan informasi publik.
Isu TBC yang diangkat KIM Tukum Mandiri, misalnya, merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan kepedulian masyarakat. Informasi yang benar dapat membantu mengurangi kesalahpahaman sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli terhadap pencegahan dan penanganannya.
Begitu pula karya video KIM Kertosari. Kreativitas audiovisual menjadi salah satu cara untuk membuat pesan kesehatan lebih dekat dengan masyarakat, khususnya di tengah kebiasaan masyarakat mengonsumsi konten melalui media digital.
Diskominfo: Desa Bisa Menghasilkan Karya Berkualitas
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang, Mustaqim, menyambut positif prestasi dua KIM tersebut.
Menurutnya, penghargaan tingkat nasional tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat desa mempunyai kemampuan menghasilkan karya yang memiliki nilai edukasi dan mampu berkompetisi dengan karya dari berbagai daerah di Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa dari desa pun bisa lahir karya yang punya pesan kuat dan mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Mustaqim, Kamis (3/9/2026).
Ia menilai informasi publik, khususnya mengenai kesehatan, tidak cukup hanya benar secara substansi. Cara menyampaikan pesan juga menjadi bagian penting agar informasi tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat.
“Pesan yang baik adalah pesan yang sampai kepada masyarakat dan bisa memberi manfaat,” katanya.
Desa Bukan Lagi Sekadar Objek Informasi
Prestasi KIM Tukum Mandiri dan KIM Kertosari sekaligus memberikan gambaran mengenai perubahan posisi masyarakat desa dalam ekosistem informasi.
Jika sebelumnya desa sering hanya menjadi objek pemberitaan, kini masyarakat desa dapat menjadi produsen informasi yang mengangkat persoalan di lingkungannya sendiri.
Kekuatan tersebut justru menjadi keunggulan tersendiri. Karena berinteraksi langsung dengan masyarakat, komunitas lokal lebih memahami persoalan yang benar-benar terjadi di lapangan.
Ketika persoalan tersebut dikemas dengan kreativitas dan disampaikan melalui media yang tepat, isu lokal dapat berubah menjadi pesan yang memiliki nilai nasional.
Dari Lumajang untuk Indonesia
Genbest 2026 akhirnya bukan hanya menjadi panggung penghargaan bagi KIM Desa Tukum Mandiri dan KIM Desa Kertosari.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi pesan bahwa kreativitas dan literasi informasi tidak mengenal batas wilayah.
Dari Tukum, lahir tulisan mengenai pentingnya kepedulian terhadap TBC. Dari Kertosari, muncul pesan kesehatan yang dikemas melalui kekuatan video.
Keduanya berangkat dari desa, tetapi mampu membawa pesan hingga tingkat nasional.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya berbagai informasi kesehatan yang belum tentu benar, keberadaan komunitas seperti KIM menjadi semakin penting. Mereka dapat menjadi jembatan antara informasi yang kredibel dengan kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.
Prestasi dua KIM Lumajang tersebut pun diharapkan tidak berhenti sebagai catatan penghargaan, tetapi menjadi pemantik bagi komunitas lain di desa-desa Kabupaten Lumajang untuk terus menghasilkan karya informatif, kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dari desa, untuk Indonesia. Dari sebuah komunitas, lahir pesan kesehatan yang mampu menembus panggung nasional. (***)






