Jombang, Globaltoday.id, 28 Agustus 2026 – Bulan Agustus tahun 2026 atau Bulan Maulid 1448 Hijriah ini, di Jawa Timur menghadirkan dua momentum besar yang memiliki makna spiritual, historis, dan kultural bagi warga Nahdlatul Ulama. Di satu sisi, umat mengenang keteladanan dan perjuangan KH. Abdul Hamid Pasuruan melalui haul ke-45. Di sisi lain, jam’iyyah Nahdlatul Ulama melaksanakan Muktamar NU ke-35 di Jombang, tanah kelahiran Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Haul KH. Abdul Hamid dan Muktamar NU ke-35 dapat dikatakan Dua Momentum, Satu Napas Khidmah Nahdliyin
Sekilas, kedua agenda tersebut merupakan kegiatan yang berbeda. Namun jika dilihat dari perspektif perjalanan tradisi dan perjuangan Nahdlatul Ulama, keduanya memiliki satu benang merah: merawat warisan ulama sekaligus meneruskan perjuangan organisasi untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Haul dan Muktamar: Pertemuan Ruhani dan Gerakan Jam’iyyah
Haul KH. Abdul Hamid menjadi ruang bagi umat untuk kembali menengok keteladanan seorang ulama yang dikenal dengan tawadhu, kedalaman ilmu, kepedulian kepada umat, dan kedekatannya dengan masyarakat.
Haul bukan sekadar kegiatan mengenang wafatnya seorang tokoh. Lebih dari itu, haul menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan para ulama, terutama keikhlasan, kesederhanaan, penghormatan kepada guru, kecintaan kepada sesama, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Dimensi inilah yang menjadi salah satu kekuatan tradisi pesantren dan Nahdliyin, yakni tashawwuf sebagai kekuatan batin yang menjaga agar aktivitas keagamaan dan sosial tidak kehilangan ruhnya.
Sementara itu, Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi momentum penting bagi perjalanan jam’iyyah. Jombang memiliki kedudukan historis yang kuat karena merupakan tanah kelahiran Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.
Muktamar menjadi ruang evaluasi, konsolidasi, perumusan arah perjuangan, serta penguatan organisasi dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
Di sinilah harakah menemukan ruangnya: bagaimana nilai-nilai keagamaan dan warisan para ulama diterjemahkan menjadi gerakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sebuah Buku yang Mempertemukan Dua Tokoh Besar
Menariknya, di tengah momentum Muktamar NU ke-35 dan Haul KH. Abdul Hamid ke-45 pada bulan Maulid 1448 H ini, hadir sebuah buku yang secara khusus mengkaji perjalanan kedua tokoh tersebut. Buku itu berjudul: “Hadratussyaikh Kyai Muhammad Hasyim Asy’ari dan Kyai Abdul Hamid Abdulloh Umar BAPAK NU KITA: Selayang Pandang Persamaan dan Perbedaannya”
Buku karya Dr. Abdulloh Shodiq tersebut menjadi bacaan yang menarik karena menghadirkan dua tokoh ulama dalam satu perspektif sejarah.
Penulis memberikan gambaran bagaimana KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Hamid Abdulloh Umar memiliki corak perjuangan masing-masing. Keduanya tumbuh dalam lingkungan dan konteks perjuangan yang tidak sepenuhnya sama, serta memiliki medan khidmah yang berbeda. Namun, perbedaan cara perjuangan tersebut tidak menghilangkan adanya satu tujuan besar, yakni berkhidmah kepada agama, umat, dan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah.
Buku ini menjadi menarik justru karena tidak berhenti pada upaya mengagungkan kedua tokoh. Penulis berusaha melihat keduanya melalui perspektif persamaan dan perbedaan, sehingga pembaca mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai karakter, perjalanan, dan perjuangan masing-masing tokoh.
130 Halaman, Empat Bab
Buku tersebut terdiri dari sekitar 130 halaman yang terbagi dalam empat bab.
Bab I mengupas biografi KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, mulai dari perjalanan hidup, latar belakang keilmuan, hingga kiprah dan perjuangannya.
Bab II membahas biografi KH. Abdul Hamid Abdulloh Umar, dengan menempatkan perjalanan hidup dan kiprah beliau dalam konteks perkembangan keagamaan dan tradisi pesantren, khususnya di Pasuruan.
Bab III menjadi bagian yang sangat menarik karena secara khusus memaparkan persamaan dan perbedaan kedua tokoh.
Pada bagian inilah pembaca diajak melihat bahwa KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Hamid memiliki karakter serta medan perjuangan yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai titik temu dalam semangat pengabdian kepada Islam, umat, dan bangsa.
Sedangkan Bab IV melengkapi pembahasan buku sekaligus memberikan ruang bagi pembaca untuk memahami pesan dan nilai yang dapat diteladani dari perjalanan kedua tokoh tersebut.
Berjuang dengan Cara Berbeda, Bermuara pada Tujuan yang Sama
Salah satu pesan penting yang dapat ditangkap dari buku ini adalah bahwa perjuangan ulama tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama.
Ada ulama yang berjuang melalui organisasi, pendidikan, pemikiran, dan konsolidasi umat. Ada pula yang lebih banyak berjuang melalui keteladanan akhlak, pengajian, pesantren, pendekatan spiritual, dan pelayanan langsung kepada masyarakat. Cara boleh berbeda, medan boleh berbeda, tetapi tujuan khidmah dapat tetap sama.
Dalam konteks inilah sosok KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Hamid menjadi menarik untuk diperbincangkan, terutama pada momentum Muktamar NU ke-35.
KH. Hasyim Asy’ari merupakan salah satu fondasi penting dalam sejarah lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama. Sementara KH. Abdul Hamid dikenal luas melalui keteladanan keulamaan dan kedekatannya dengan umat, khususnya dalam tradisi pesantren dan masyarakat Pasuruan.
Membaca keduanya secara bersamaan akan memberikan perspektif bahwa perjalanan NU tidak hanya dibangun oleh kekuatan organisasi, tetapi juga oleh keteladanan para ulama dan kedalaman spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Layak Menjadi Khazanah Perpustakaan Nahdliyin
Mengoleksi buku ini bukan semata-mata untuk mengetahui biografi dua ulama besar. Lebih dari itu, buku tersebut dapat menjadi bagian dari khazanah perpustakaan NU di berbagai daerah di Indonesia, agar generasi Nahdliyin memiliki bahan bacaan yang membantu mengenal para tokoh dan perjalanan sejarah NU melalui perspektif yang lebih dekat dan kontekstual. Karena itu, buku ini layak menjadi salah satu bacaan bagi warga Nahdliyin, khususnya dalam momentum Muktamar NU ke-35.
Bagi warga Nahdliyin, mengenang ulama tidak cukup hanya melalui acara haul. Mengenang juga berarti membaca, memahami, meneladani, dan meneruskan nilai perjuangan mereka. Apalagi ketika bulan Maulid 1448 H mempertemukan dua momentum besar: Haul ke-45 KH. Abdul Hamid di Pasuruan dan Muktamar NU ke-35 di Jombang.
Keduanya seolah mengingatkan kembali bahwa perjalanan Nahdlatul Ulama selalu membutuhkan dua kekuatan sekaligus: kedalaman spiritual dan ketangguhan jam’iyyah.
Haul menjaga agar warga Nahdliyin tidak kehilangan sanad keteladanan ulama.
Muktamar menjaga agar jam’iyyah memiliki arah dalam menghadapi masa depan.
Dan buku tentang KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Hamid tersebut menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan sejarah, keteladanan, dan refleksi perjuangan kedua tokoh dalam satu bacaan.
Pada akhirnya Kesimpulan yang kita dapatkan, sejarah bukan sekadar untuk dikenang. Sejarah adalah cermin untuk membaca masa depan. Dari Hasyim Asy’ari kita belajar membangun jam’iyyah. Dari Abdul Hamid kita belajar menghidupkan keteladanan.
Dari keduanya kita belajar bahwa perjuangan dapat ditempuh dengan cara berbeda, tetapi tetap bermuara pada satu tujuan: khidmah kepada agama, umat, dan negeri.
Mokh. Luqman
Alumni PP Salafiyah Pasuruan
(Mantan Jurnalis Majalah NASYATH, Media Santri Salafiyah)
