Globaltoday.id, Malang – Transformasi pendidikan vokasi tidak cukup hanya dilakukan dengan memperbarui kurikulum maupun teknologi pembelajaran. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong para guru SMK untuk mengubah cara pandang terhadap proses belajar dengan menempatkan murid sebagai pusat sekaligus subjek utama pendidikan.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri Apresiasi Kreasi Implementasi Pembelajaran Mendalam 2026 (AKSI PM) yang digelar Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Sabtu (9/8/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran mendalam tidak sekadar berbicara mengenai metode mengajar. Lebih jauh, pendekatan tersebut harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).
Guru Tidak Sekadar Mengajar, tetapi Memuliakan Murid
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh bagaimana guru memandang dan memperlakukan peserta didiknya.
Ia menyebut konsep memuliakan sebagai salah satu fondasi penting dalam pembelajaran mendalam.
“Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang ingin kita lakukan dengan prinsip dasar memuliakan. Kata kuncinya adalah memuliakan: memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu.”
Menurutnya, setiap anak memiliki kemampuan, minat, bakat, pengalaman, dan latar belakang yang berbeda. Karena itu, guru tidak seharusnya hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga perlu mengenali potensi masing-masing peserta didik.
Pesan tersebut dinilai semakin relevan dalam pendidikan SMK yang secara langsung mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja dan kehidupan nyata.
AKSI PM Jadi Panggung Praktik Baik Guru SMK
Kegiatan AKSI PM 2026 tidak hanya menjadi ajang penghargaan bagi guru berprestasi. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana konsep Pembelajaran Mendalam diterapkan secara nyata di ruang kelas dan bengkel praktik.
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 22 Juli hingga 9 Agustus 2026, dengan melibatkan 250 satuan pendidikan yang menjadi sasaran pelatihan tahun 2025.
Dari ratusan satuan pendidikan tersebut, sebanyak 78 karya lolos seleksi administrasi. Selanjutnya, 20 guru terpilih masuk nominasi terbaik dan mengikuti rangkaian kegiatan lanjutan di BBPPMPV BOE Malang.
Karya yang dipresentasikan berupa infografis praktik baik yang menggambarkan proses pembelajaran secara utuh, mulai dari persoalan yang dihadapi guru, strategi pembelajaran, implementasi di kelas, hingga dokumen pendukung seperti modul ajar dan RPP.
Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama, yakni implementasi Pembelajaran Mendalam, substansi kejuruan, dan kualitas media penyajian.
Bukan Sekadar Poster Bagus, tetapi Dampaknya kepada Murid
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa AKSI PM tidak boleh dipandang sekadar sebagai kompetisi membuat karya.
Menurutnya, hal terpenting adalah melihat sejauh mana inovasi yang dilakukan guru mampu mengubah pengalaman belajar peserta didik.
“Yang kita nilai bukan sekadar bagusnya poster, tetapi seberapa dalam pembelajaran itu mengubah pengalaman belajar murid.”
Karena itu, praktik baik yang ditampilkan tidak hanya dinilai dari sisi visual, tetapi juga dari proses pembelajaran, strategi pedagogis, tantangan yang dihadapi guru, serta dampak yang dioeroleh murid.
Matematika Dibawa ke Bengkel, AR Hadirkan Pembelajaran Interaktif
Sejumlah karya yang ditampilkan menunjukkan bahwa Pembelajaran Mendalam dapat diterapkan melalui berbagai pendekatan, termasuk menghubungkan pelajaran dengan situasi nyata dunia kerja.
Peraih Terbaik 1, Krisna Kirana dari SMK Negeri 2 Jiwan, Madiun, misalnya, mengembangkan karya “MATABOR” (Matematika Terapan Abad 21: Basis Operasi Trigonometri pada Pengeboran Presisi).
Melalui pendekatan tersebut, konsep trigonometri tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi langsung dikaitkan dengan praktik pengeboran presisi di bengkel mesin.
Sementara Terbaik 2, Yusra Khairunnisa dari SMK Negeri 1 Singosari, Malang, menghadirkan inovasi pembelajaran menggunakan pendekatan hybrid dan teknologi Augmented Reality (AR).
Melalui Diorama AR, peserta didik diajak mempelajari berbagai aspek seperti furnitur, psikologi warna, hingga ergonomi secara lebih interaktif.
Dua karya tersebut menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu identik dengan teknologi mahal dan rumit. Hal terpenting adalah kemampuan guru memahami kebutuhan murid dan memilih pendekatan yang tepat.
20 Guru Terbaik Didorong Menularkan Praktik Baik
Sebanyak 20 guru yang masuk nominasi terbaik kemudian mengikuti Workshop Apresiasi Karya Implementasi Pembelajaran Mendalam pada 8–10 Agustus 2026.
Forum tersebut menjadi ruang untuk membedah karya sekaligus berbagi pengalaman mengenai penerapan Pembelajaran Mendalam di lingkungan pendidikan vokasi.
Para guru tidak hanya mempresentasikan hasil akhir, tetapi juga membahas berbagai tantangan yang mereka hadapi, strategi yang dipilih, proses implementasi hingga hasil pembelajaran yang diperoleh.
Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak berhenti sebagai materi kompetisi. Praktik tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dan sekolah lain.
BBPPMPV BOE: Dari Praktik Baik Menjadi Gerakan Bersama
Kepala BBPPMPV BOE Malang, Anwar Sidarta, mengatakan AKSI PM 2026 merupakan bagian dari komitmen lembaganya untuk memperkuat implementasi Pembelajaran Mendalam di pendidikan vokasi.
“Melalui AKSI PM 2026, BBPPMPV BOE berkomitmen memberikan penguatan terhadap implementasi Pembelajaran Mendalam sebagai wujud pelaksanaan tugas utama kami selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” ujarnya.
Menurut Anwar, peningkatan kualitas pembelajaran harus dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan kompetensi guru, apresiasi terhadap inovasi, refleksi, berbagi pengalaman, serta penyebarluasan praktik baik.
AKSI PM 2026 juga dihadiri sejumlah pemangku kepentingan pendidikan dari tingkat pusat hingga daerah, termasuk Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Wakil Wali Kota Malang, Kepala BBGTK Jawa Timur, Kepala BBPMP Jawa Timur, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, serta perwakilan sejumlah provinsi di Indonesia.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan kerja bersama lintas lembaga dan wilayah.
Transformasi Pendidikan Dimulai dari Ruang Kelas
Pada akhirnya, perubahan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Implementasi nyata justru terjadi setiap hari di ruang kelas, bengkel praktik, laboratorium, maupun lingkungan belajar lainnya.
AKSI PM 2026 menjadi salah satu ruang untuk menemukan sekaligus menyebarluaskan berbagai inovasi guru SMK dalam menciptakan pembelajaran yang lebih sadar, relevan, bermakna, menyenangkan, dan memuliakan murid.
Melalui guru yang terus belajar, berefleksi dan berinovasi, Pembelajaran Mendalam diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah konsep kebijakan. Lebih dari itu, pendekatan tersebut dapat tumbuh menjadi budaya belajar baru di pendidikan vokasi Indonesia, sekaligus mempersiapkan lulusan SMK yang memiliki kompetensi, karakter, dan kesiapan menghadapi dunia nyata.
