KH IDRIS HAMID : PRIHATIN JIKA NU DIJADIKAN ALAT DAN PARTAI POLITIK

Globaltodays.id | Pasuruan, 9 Agustus 2026 – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pengasuh Pondok Pesantren Baytul Hikmah Kota Pasuruan, KH. Idris Hamid, mengingatkan agar NU tidak dijadikan alat kepentingan politik praktis. Pesan tersebut disampaikan saat KH. Idris menjadi keynote speaker dalam Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan di PP Baytul Hikmah yang merupakan kegiatan pra muktamar, Minggu (9/8/2026).
KH. Idris mengaku prihatin melihat kondisi NU yang dinilai mulai bergeser dari sejarah dan cita-cita para pendirinya. Ia secara khusus menyoroti pada kelompok yang memunculkan gagasan agar NU menjadi partai politik.
“Saat ini NU akan di rubah menjadi partai politik. Hal ini karena memang ada pihak-pihak yang berusaha merusak NU,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan tersebut harus diwaspadai karena NU sejak awal bukan dibangun sebagai kendaraan politik, melainkan organisasi yang lahir dari rahim para ulama.
KH. Idris kemudian mengingatkan kembali proses berdirinya NU. Sebelum mendirikan organisasi tersebut, KH. Hasyim Asy’ari melakukan silaturahmi kepada sejumlah ulama Nusantara untuk meminta petunjuk dan restu. Di antaranya KH. Yasin bin Rois dan KH. Ahmad Shiddiq di Jember. Dalam sialturrahminya KH. Hasyim Asyari meminta petunjuk atas rencana pendirian organisasi tersebut.
Sebelum akhirnya memberi jawaban KH. Yasin bin Rois memohon agar dirinya dapat melakukan istikhoroh terlebih dahulu. Dari hasil istikhoroh memberi sinyal bahwa oragnisasi ini baik untuk ditindaklanjuti.
Kemudian muncul tawaran kepada KH. Yasin agar Beliau bersedia menjadi pengurus. Namun Beliau menolak karena karena memilih fokus membina Masyarakat di sekitar Pasuruan. Kemudian memberikan kesempatan kepada keluarganya yang lain yakni Bani Shiddiq Jember. untuk terlibat dalam kepengurusan NU.
Dalam perkembangan berikutnya, KH. Mahfudz Shiddiq menjadi bagian dari kepengurusan PBNU dan pada periode kedua mendampingi KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais. Sebelumnya, kepemimpinan NU berada di tangan KH. Hasan Gipo Surabaya. Pada masa awal, pusat kegiatan NU berada di Surabaya sebelum kemudian berkembang dan berpindah ke Jakarta.
Bagi KH. Idris, sejarah tersebut menunjukkan bahwa NU lahir melalui proses keulamaan para Waliyuallah, silaturahmi, musyawarah, dan pengabdian kepada umat, bukan dari kepentingan politik praktis.
“NU organisasi terbesar di seluruh dunia. Jika berubah, yang menangis bukan kita, tetapi KH. Hasyim Asy’ari juga akan menangis,” tegasnya.
Ia berharap warga NU tetap menjaga jati diri, nilai keulamaan, dan cita-cita para pendiri agar kebesaran NU tidak kehilangan ruh perjuangannya.(.)
Kontributor : Mokh. Luqman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *