Globaltoday id, LUMAJANG – Di balik tenangnya permukaan Ranu Klakah, tersimpan sebuah fenomena alam yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Warga menyebutnya Koyo, sebuah peristiwa ketika ikan nila dan udang tiba-tiba bermunculan di permukaan danau. Bagi masyarakat sekitar, fenomena ini bukan sekadar kejadian musiman, melainkan pesan alam yang telah mereka pahami secara turun-temurun.
Sejak pagi hari, tepian Ranu Klakah dipenuhi warga yang membawa serok, jaring, hingga ember untuk menangkap ikan yang berenang lambat di permukaan air. Anak-anak tampak antusias mengejar ikan di pinggir danau, sementara orang dewasa mengamati perubahan kondisi air yang menjadi pertanda datangnya Koyo.
Fenomena tersebut lazim terjadi ketika suhu udara mulai menurun pada pertengahan tahun. Bagi warga yang telah lama tinggal di sekitar danau, perubahan arah angin, udara yang lebih dingin, hingga karakter permukaan air menjadi tanda bahwa Koyo segera datang.
Salah seorang warga, Ashari, mengaku sudah sangat akrab dengan fenomena tersebut.
“Kalau udara mulai dingin seperti sekarang, biasanya Koyo datang. Ikan nila yang paling sering muncul, kadang juga udang,” ujarnya.
Pengetahuan masyarakat tentang Koyo lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam. Jauh sebelum istilah ilmiah dikenal, warga telah mampu mengenali siklus alam hanya melalui perubahan cuaca dan kondisi danau yang mereka amati setiap tahun.
Koyo dalam Penjelasan Ilmiah
Fenomena yang dikenal masyarakat sebagai Koyo ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan upwelling, yaitu naiknya massa air dari dasar danau ke permukaan akibat perubahan suhu dan kondisi cuaca.
Menurutnya, air di lapisan dasar memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah. Ketika lapisan air teraduk karena perubahan cuaca, kadar oksigen di permukaan ikut menurun sehingga ikan mengalami kekurangan oksigen dan naik ke permukaan dalam kondisi lemas.
“Ikan bukan keracunan. Ini murni proses alam yang menyebabkan kandungan oksigen dalam air menurun sehingga ikan mengalami stres,” jelasnya.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal yang diwariskan masyarakat selama puluhan tahun ternyata selaras dengan kajian ilmiah modern. Masyarakat mengenalnya sebagai Koyo, sementara dunia sains menyebutnya upwelling.
Pembudidaya Sudah Mengantisipasi
Fenomena Koyo juga menjadi perhatian para pembudidaya ikan keramba di Ranu Klakah. Mereka telah memahami bahwa periode pertengahan tahun merupakan masa yang rawan terhadap munculnya fenomena tersebut.
Salah seorang pembudidaya, Zakki Zulkarnain, mengatakan Koyo hampir selalu terjadi saat musim dingin hingga akhir Agustus.
“Iya, setiap tahun biasanya muncul di bulan-bulan ini. Karena sudah tahu polanya, kami mengatur jadwal tebar benih dan panen supaya tidak mengalami kerugian besar,” katanya.
Pengalaman tersebut membuat para pembudidaya semakin adaptif dalam mengelola usaha perikanan, mulai dari penyesuaian pemberian pakan hingga mempercepat panen ketika tanda-tanda Koyo mulai terlihat.
Berkah bagi Warga, Ujian bagi Petani Ikan
Kemunculan Koyo membawa dua sisi yang berbeda. Bagi masyarakat umum, fenomena ini menjadi kesempatan memperoleh ikan segar dengan lebih mudah karena banyak ikan mendekati tepian danau.
Namun bagi pembudidaya ikan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Banyak ikan yang belum mencapai ukuran ideal harus dipanen lebih cepat agar tidak mengalami kerugian akibat menurunnya kadar oksigen di dalam air.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi ikan hasil fenomena Koyo. Dinas Perikanan memastikan ikan tetap aman dikonsumsi selama masih dalam kondisi segar karena penyebabnya bukan pencemaran maupun racun, melainkan proses alami yang terjadi di ekosistem danau.
Alam Selalu Memberi Isyarat
Fenomena Koyo menjadi bukti bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menyampaikan pesan kepada manusia. Apa yang selama puluhan tahun dibaca masyarakat melalui pengalaman kini mendapat pembenaran dari ilmu pengetahuan.
Di Ranu Klakah, kearifan lokal dan sains berjalan berdampingan. Warga belajar mengenali perubahan musim dari tanda-tanda alam, sementara penelitian ilmiah menjelaskan proses yang terjadi di baliknya.
Lebih dari sekadar kemunculan ikan di permukaan danau, Koyo menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan alam sekaligus memahami siklusnya adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan lingkungan. Di tepian Ranu Klakah, tradisi membaca bahasa alam tetap hidup dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.






