Staf Khusus Kemendikdasmen Paparkan Tantangan Pendidikan Modern dan Tiga Pilar Pendidikan Indonesia di BBPPMPV BOE Malang

Globaltoday.id, Malang – Pelatihan Peningkatan Kompetensi Instruktur dan Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Berbasis Dunia Kerja Angkatan I Tahun 2026 tidak hanya membahas penguatan kompetensi vokasi, tetapi juga mengupas arah pembangunan pendidikan nasional di tengah tantangan zaman.

Dalam paparannya saat menghadiri pembukaan Pelatihan Peningkatan Komoetensi Instruktur LKP Berbasis Dunia Kerja di BBPPMPV BOE Malang, Staf Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Bidang Media dan Komunikasi, Ma’ruf, mengajak para peserta memahami berbagai persoalan pendidikan yang masih dihadapi Indonesia sekaligus strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Menurut Ma’ruf, hasil survei yang dirilis Databoks pada Juni–Juli 2024 menunjukkan sejumlah tantangan utama sektor pendidikan Indonesia. Beberapa persoalan yang masih menjadi perhatian antara lain ketimpangan akses pendidikan, keterbatasan infrastruktur pendidikan, minimnya pemanfaatan teknologi, kurangnya pelatihan guru, keterbatasan pendanaan, tingginya angka putus sekolah, serta kebutuhan pembaruan kurikulum yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

“Persoalan pendidikan saat ini tidak hanya berbicara tentang ruang kelas dan gedung sekolah, tetapi juga bagaimana menghadirkan pendidikan yang merata, berkualitas, dan mampu menjawab kebutuhan masa depan,” ujar Ma’ruf di hadapan peserta pelatihan.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini membangun pendidikan nasional melalui tiga pilar utama. Pilar pertama adalah infrastruktur fisik, yaitu perbaikan dan revitalisasi satuan pendidikan di berbagai daerah untuk menciptakan lingkungan belajar yang layak dan nyaman.

Pilar kedua adalah infrastruktur pedagogis, yang berfokus pada peningkatan kompetensi, kualifikasi, dan kesejahteraan guru sebagai ujung tombak pendidikan. Sedangkan pilar ketiga adalah infrastruktur budaya, yakni penguatan pendidikan karakter melalui berbagai program yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, disiplin, dan gotong royong kepada peserta didik.

Dalam kesempatan tersebut, Ma’ruf juga mengulas konsep pendidikan yang diwariskan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, terdapat tiga fondasi penting yang masih relevan hingga saat ini.

Pertama adalah Tripusat Pendidikan, yang menempatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai unsur yang saling melengkapi dalam mendidik anak. Kedua adalah Sistem Among, yang dikenal melalui filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, sebagai pedoman dalam membimbing peserta didik. Ketiga adalah Trisakti Jiwa, yang menekankan keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa dalam pembentukan karakter manusia.

Ma’ruf menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut tetap menjadi dasar dalam pembangunan pendidikan Indonesia saat ini. Namun, untuk menjawab tantangan abad ke-21, diperlukan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

“Kita harus menjaga nilai-nilai luhur pendidikan Indonesia sekaligus membuka diri terhadap perubahan. Pendidikan harus mampu membentuk karakter sekaligus membekali peserta didik dengan kompetensi yang dibutuhkan di era digital,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dunia usaha dan dunia industri dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, para instruktur dan pengelola LKP diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga memahami arah kebijakan pendidikan nasional sehingga mampu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.

Kegiatan yang diikuti  peserta dari berbagai wilayah Indonesia tersebut menjadi bagian dari program Kemendikdasmen dalam memperkuat sumber daya manusia yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *