Misteri Jejak RM Singowigoeno: Patih Legendaris Lumajang yang Tinggalkan Warisan di Curahpetung

Jawa Timur, Lumajang435 Dilihat

Globaltoday.id, Lumajang – Tak banyak orang tahu, di balik megahnya sejarah Lumajang pernah ada sosok bangsawan Jawa yang memimpin dengan tangan dingin selama lebih dari tiga dekade. Dialah Raden Mas Singowigoeno, tokoh besar yang pernah menjabat sebagai Patih Zelfstandig Afdeeling Lumajang antara tahun 1890 hingga 1920.

Lahir di Probolinggo pada 10 Agustus 1860, Singowigoeno sejak remaja sudah akrab dengan dunia birokrasi kolonial Hindia Belanda. Kariernya melesat cepat, dari juru tulis di usia 14 tahun hingga dipercaya menjadi Wedana Lumajang di usia 22 tahun. Gaya kepemimpinannya dikenal unik pada masanya: transparan, dekat dengan rakyat, dan berani membuat inovasi, termasuk sistem seleksi kepala desa dengan suara rakyat.

Pada 23 Januari 1890, Lumajang resmi naik status menjadi afdeeling mandiri dan Singowigoeno dilantik sebagai patih pertama. Ia mengabdi hingga pensiun pada 10 Mei 1920, menjadikannya salah satu pejabat lokal terlama dalam sejarah Lumajang.

Namun, warisan sejarah itu tak hanya tercatat dalam arsip kolonial. Di Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, berdiri sebuah rumah tua peninggalannya. Warga setempat menyebutnya “Ndaleman”, sebuah bangunan berarsitektur Indis yang kini tampak rapuh dan nyaris terlupakan.

Camat Kedungjajang, Nurul Huda SE, menegaskan pentingnya merawat peninggalan bersejarah ini.

“Ndaleman peninggalan RM Singowigoeno adalah warisan budaya Lumajang. Walaupun kondisinya memprihatinkan, masyarakat harus tahu bahwa dari sinilah pernah lahir kebijakan penting yang memajukan Lumajang pada masanya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan ahli waris keluarga. (nama ahli waris) berharap rumah leluhur mereka bisa diselamatkan.

“Kami berharap pemerintah daerah bisa merevitalisasi rumah ini. Eyang Singowigoeno bukan hanya milik keluarga kami, tapi tokoh Lumajang. Jika rumah ini dijadikan museum kecil, generasi muda akan belajar langsung tentang sejarahnya,” katanya.

Selain rumah peninggalan, sejumlah benda pribadi seperti foto lawas, keris, dan dokumen kolonial masih tersimpan di tangan keluarga. Sebagian lainnya sudah dipajang di Museum Lumajang, menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang tokoh yang mengangkat nama Lumajang di masa lalu.

Kini, lebih dari seabad sejak masa pemerintahannya, nama Raden Mas Singowigoeno kembali mencuat sebagai pengingat bahwa sejarah bukan sekadar cerita lama, melainkan warisan yang harus dijaga.

– Sumber Berita:

* Arsip Kolonial Belanda (Regeerings Almanak, 1890–1920)

* Dokumen Nota Sejarah Lumajang (1985)

* Wawancara dengan Camat Kedungjajang, Agustus 2025

* Testimoni ahli waris RM Singowigoeno di Desa Curahpetung

* Koleksi Museum Lumajang.                         ( Dodik )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *