Rata Pralaya, Kereta Sakral Pengantar Raja ke Peristirahatan Terakhir

Jawa Timur, Lumajang519 Dilihat

Globaltoday.id, Yogyakarta – Di balik kemegahan warisan budaya Keraton Yogyakarta, tersimpan sebuah kisah sakral dari kereta Rata Pralaya, kendaraan pusaka yang diciptakan untuk satu tujuan mulia: mengantar jenazah raja ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1938, kereta ini menyimpan misteri sejak awal kemunculannya.

Kereta ini memiliki bentuk panjang memanjang dengan pintu di bagian depan dan belakang. Semula, fungsinya tidak diketahui. Namun, semua terungkap saat Sultan Hamengku Buwono VIII wafat pada tahun 1939. Kereta inilah yang digunakan untuk mengantarkan jenazah beliau ke makam raja-raja Mataram di Imogiri, dan sejak saat itu diberi nama Kanjeng Kyai Rata Pralaya.

Makna kereta ini semakin dalam ketika digunakan kembali pada tahun 1988, saat Sultan Hamengku Buwono IX mangkat. Sebelum digunakan, kereta ditambahkan ornamen lidah api berwarna putih dan hitam, motif sakral yang berasal dari darah ayam, menambah kesan magis dan sakral dari kereta berjenis Hearse ini.

“Rata Pralaya bukan sekadar kendaraan pengangkut jenazah, tapi simbol penghormatan tertinggi dari rakyat kepada rajanya,” ungkap Raden Bagus Sudiryo, budayawan Kraton Yogyakarta.

Dalam budaya Jawa, penghantaran jenazah raja adalah prosesi spiritual yang dijalani dengan penuh khidmat. Oleh karena itu, kereta Rata Pralaya menjadi manifestasi visual dari rasa duka dan pengabdian abadi rakyat kepada pemimpinnya.

Kereta Rata Pralaya bukan hanya saksi bisu perpisahan raja dengan dunia, tapi juga pengingat bahwa setiap akhir adalah bagian dari perjalanan. Di balik roda dan ukirannya, kereta ini menyimpan kisah kesetiaan, kekhidmatan, dan warisan budaya luhur yang akan terus hidup dalam sejarah bangsa.

( Dodik )