KH. Aqib Bin Yasin Bin Rois Kehebatan Ulama Indonesia Dalam Syair Arab yang mendunia 

Uncategorized1281 Dilihat

Globaltoday.id Bojonegoro, 05/06/2025. “Gema lantunan lafadz Talbiyah senantiasa menggetarkan langit dan bumi setiap kali momen sakral selamatan dan pelepasan jamaah haji digelar. Dengan suara emas nan syahdu, sang pelantun membius suasana, menembus relung hati, dan meneteskan air mata para hadirin. Bagi mereka yang memahami makna setiap untaian kalimatnya, akan merasakan ledakan spiritual yang dahsyat — seolah diseru langsung oleh panggilan Ilahi menuju Tanah Suci, dalam suasana batin yang tak terlukiskan oleh kata-kata.”

Indonesia tak hanya dikenal sebagai negeri yang kaya akan budaya dan tradisi, tetapi juga sebagai tanah para ulama besar yang ilmunya diakui dunia. Di antara banyaknya kontribusi mereka, terdapat warisan agung berupa syair-syair berbahasa Arab yang tidak hanya hidup di kalangan pesantren, tetapi juga menggema hingga ke berbagai penjuru dunia Islam.

Kehebatan para ulama Indonesia ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya pusat pembelajaran kitab kuning, tetapi juga pusat lahirnya karya sastra Arab klasik yang bertaraf internasional. Dengan bahasa Arab yang indah, makna yang dalam, dan jiwa yang penuh keikhlasan, karya-karya mereka menjadi pelita peradaban dan bukti bahwa Indonesia adalah negeri para auliya.

Salah satu yang fenomel adalah KH. Aqib bin Yasin bin Rois, ulama asal Pasuruan Jawa Timur, menorehkan mahakarya berupa syair “Li Qumil Baitil Harām”, yang menggugah semangat jamaah haji dan umrah untuk menjaga adab, cinta, dan pengagungan terhadap Tanah Suci. Syair ini telah diajarkan di berbagai pondok pesantren dan bahkan dibaca oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karya beliau menunjukkan bahwa ulama Indonesia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kepekaan estetika dan sastra tingkat tinggi dalam bahasa Arab yang bukan bahasa ibu mereka.

KH. Aqib bin Yasin Beliau lahir di Pasuruan pada tahun 1898 M. Beliau dididik oleh ayahnya, Kiai Yasin, dan kemudian melanjutkan pendidikannya di beberapa pondok pesantren, termasuk di Bangkalan, Madura, di mana beliau diasuh oleh Kiai Cholil. Keilmuannya diakui oleh masyarakat. Istri beliau bernama Nyai Mahmiyah binti Abdul Jalil merupakan garis keturunan Keluarga Besar Pondok Pesantren Sidogiri Kraton Pasuruan.

KH. Aqib bin Yasin bin Rois merupakan salah satu pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan. Setelah wafatnya sang ayah pada tahun 1951, KH. Aqib diangkat sebagai nazhir (pengasuh) pesantren tersebut. Namun, karena saat itu beliau masih muda dan sedang menimba ilmu di Pesantren Al-Hidayah Lasem, kepemimpinan harian pesantren dijalankan oleh KH. Abdul Hamid Pasuruan hingga KH. Aqib menyelesaikan pendidikannya. Hubungan antara KH. Abdul Hamid dengan KH. Aqib bin Yasin adalah Paman (Man Aqib biasa Kyai Hamid memanggilnya).

KH. Aqib dikenal sebagai sosok yang memiliki kedalaman ilmu agama, khususnya dalam membaca dan memahami kitab kuning. Kemampuannya ini diyakini sebagai anugerah ladunni, yaitu ilmu yang diberikan langsung oleh Allah tanpa melalui proses belajar formal yang panjang. Dalam sebuah mimpi, beliau mendapatkan petunjuk yang membuatnya mampu memahami kitab-kitab klasik dengan mudah, sebuah karomah yang jarang dimiliki oleh ulama lain.

Barokah ladunni ini seperti yang disampaikan oleh . KH. Abdul Hadi bin Ahmad Qusyari dalam peringatan haul ke 30. Berawal dari perintah Ibunya agar beliau pulang ke rumah di Pondok Pesantren Salafiyah untuk menggantikan ayahnya KH. Yasin, Beliau menolak atas dasar belum alim dan cukup umur memangku pesantren.

Kemudian rasa kasihan atas keinginan Ibunya tidak dipenuhi oleh Kyai Aqib, Kyai Abdul Hamid mendatangi Kyai Aqib dengan mengatakan,” sudahlah Man Aqib, njenegan pulang saja, ilmumu nanti malam datang yang diucapkan berkali-kali”. Timbul tanda tanya apa yang disampaikan Kyai Hamid padanya.”Ya atau tidak“.

Apa yang dirasakan itu sampai kebawa mimpi, dimana dalam mimpi Beliau bertemu dengan Kyai Hamid dan memerintahkan Kyai Aqib mengambil kitab Ihya’ ulumuddin dan membacanya. Dalam praktek membaca kitab Ihya’ Ulumuddin ini diberikan kelancaran dan seksama. Tersadar dari mimpinya, dalam hatinya mengatakan,” benarkah dirinya bisa alim seperti saat membaca kitab tersebut. Akhirnya dalam keadaan sadar membuka kitab-kitab yang lain dan membacanya ternyata dengan fasih dapat memahaminya. Dari situlah kemudian keilmuan ladunni itu tercipta.

Beberapa karya besar syair yang telah dibuat adalah sebuah syair yang menceritakan kehidupan dirinya bersama Kyai Hamid dalam kontek sebagai tetangga berjudul Ni’mal Jarii (Kenikmatan Bertetangga) dalam hal ini yang dimaksud adalah betapa bahagian dan rasa nikmat bertetangga dengan Kyai Hamid Pasuruan yang mana beliau adalah seorang Al arifbillah. Seorang tetangga yang telah diangkat derajatnya dengan predikat Waliyulloh.(luq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *