Globaltoday.id, Lumajang – Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diukur dari tersedianya makanan bergizi dan aman dikonsumsi. Di balik ribuan porsi makanan yang diproduksi setiap hari, terdapat para pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menghadapi berbagai risiko keselamatan kerja. Karena itu, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi bagian penting dalam mewujudkan dapur MBG yang profesional, aman, dan berkelanjutan.
Sejalan dengan penerapan Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor 52.2 Tahun 2025 tentang Pedoman Sertifikasi Keamanan Pangan pada SPPG, pengelola dapur MBG diwajibkan memenuhi standar higiene, sanitasi, serta pengendalian risiko keamanan pangan melalui Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Namun, aspek perlindungan tenaga kerja juga menjadi perhatian yang tidak kalah penting untuk menjamin operasional dapur berjalan aman dan berkesinambungan.
ISO 45001: Melindungi Orang di Balik Sajian Bergizi
Mengacu pada materi edukasi penerapan ISO 45001:2018 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), setiap dapur SPPG didorong menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan kondusif.
Di balik sajian bergizi yang berkualitas, terdapat tim dapur yang setiap hari bekerja di lingkungan dengan tingkat aktivitas tinggi. Mulai dari proses penerimaan bahan baku, pencucian, pemotongan, memasak, hingga distribusi makanan, seluruh aktivitas memiliki potensi bahaya yang harus dikendalikan.
Melalui penerapan ISO 45001:2018, pengelola SPPG diharapkan mampu mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, serta menerapkan langkah pengendalian secara sistematis untuk mencegah kecelakaan kerja.
Risiko Kerja di Dapur MBG Sangat Nyata
Aktivitas produksi makanan dalam skala besar memiliki berbagai potensi risiko, antara lain:
* luka bakar akibat kompor, oven, atau uap panas;
* terkena percikan minyak panas;
* cedera karena pisau dan peralatan tajam;
* terpeleset akibat lantai licin;
* tersengat listrik dari peralatan dapur;
* gangguan otot dan tulang akibat mengangkat beban berat;
* paparan panas berlebih selama proses memasak.
Apabila risiko tersebut tidak dikendalikan dengan baik, bukan hanya keselamatan pekerja yang terancam, tetapi juga dapat mengganggu kelancaran operasional dapur MBG.
K3 Mendukung Keamanan Pangan
Penerapan K3 bukan sekadar melindungi tenaga kerja, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap keamanan pangan.
Pekerja yang sehat, terlatih, dan bekerja di lingkungan yang aman akan lebih mampu menjaga kebersihan, disiplin menjalankan prosedur operasional, serta meminimalkan potensi kontaminasi makanan.
Karena itu, penerapan K3 menjadi bagian yang saling melengkapi dengan sistem SLHS dan HACCP dalam membangun budaya mutu di dapur SPPG.
Budaya Pencegahan Harus Dibangun
ISO 45001 mengedepankan pendekatan pencegahan dibanding penanganan setelah kecelakaan terjadi.
Beberapa langkah yang perlu diterapkan di setiap dapur MBG antara lain:
* identifikasi bahaya dan penilaian risiko secara berkala;
* penyediaan alat pelindung diri (APD);
* pelatihan K3 bagi seluruh petugas dapur;
* penyusunan prosedur tanggap darurat;
* inspeksi rutin terhadap peralatan memasak;
* pelaporan dan evaluasi setiap kejadian maupun near miss.
Dengan pendekatan tersebut, risiko kecelakaan kerja dapat ditekan sejak dini.
Investasi Keselamatan untuk Keberlanjutan MBG
BGN menegaskan bahwa pengelolaan SPPG tidak hanya berorientasi pada produksi makanan, tetapi juga pada penerapan sistem manajemen yang mampu menjamin keamanan pangan dan keberlangsungan layanan. Sertifikasi keamanan pangan yang diwajibkan kepada SPPG merupakan bagian dari upaya membangun tata kelola dapur yang profesional, akuntabel, dan memenuhi standar nasional.
Dengan demikian, penerapan ISO 45001:2018 dapat menjadi pelengkap penting bagi pengelola SPPG dalam membangun budaya kerja yang aman. Sebab, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disajikan, tetapi juga oleh keselamatan para pekerja yang setiap hari memastikan makanan bergizi tersebut sampai ke tangan jutaan penerima manfaat.






