Ratusan Santri Manbaul Hikam Sidoarjo Tumbang Usai Santap MBG, Dugaan Gangguan Keamanan Pangan Diselidiki

GLOBALTODAY.ID, SIDOARJO – Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, harus mendapatkan perawatan medis setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).

Peristiwa tersebut sontak menjadi perhatian setelah para santri mulai mengalami sejumlah gejala seperti mual, muntah, pusing hingga gangguan pada kondisi tubuh beberapa jam setelah mengonsumsi makanan MBG.

Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun, mengatakan keluhan mulai muncul setelah para santri menyantap makanan yang dibagikan pada siang hari. Gejala kemudian semakin banyak dialami santri setelah memasuki sore hari.

Ratusan Santri Mendapat Perawatan

Data awal yang dihimpun pada Selasa malam menunjukkan sedikitnya 273 santri telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 200 santri dirawat di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, 58 santri di RSI Siti Hajar, dan 15 santri di RS Delta Surya. Namun, jumlah tersebut masih bersifat dinamis karena pasien terus berdatangan dan dilakukan pendataan ulang di sejumlah fasilitas kesehatan.

Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan jumlah santri yang mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan telah mencapai lebih dari 300 orang. Salah satu laporan lapangan menyebut angka sekitar 344 pasien, sehingga proses pendataan dan pemantauan masih terus dilakukan.

Sementara itu, sejumlah pasien yang kondisinya membaik telah diperbolehkan kembali ke pondok pesantren setelah mendapatkan penanganan medis.

Tidak Ada Korban Meninggal Dunia

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan seluruh santri yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan.

Ia juga menegaskan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama rumah sakit dan instansi terkait terus memantau kondisi para santri yang masih menjalani observasi maupun rawat inap.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Emil turut meninjau kondisi para santri yang mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo pada Rabu dini hari.

Makanan Berasal dari SPPG Kalitengah

Dari penelusuran sementara, makanan MBG yang dikonsumsi para santri tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.  SPPG tersebut tercatat dalam daftar operasional SPPG Badan Gizi Nasional.

Menu yang dibagikan antara lain nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn dan buah apel. Namun, belum dapat dipastikan makanan atau bahan tertentu menjadi penyebab kejadian tersebut. Penentuan penyebab harus menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi resmi.

Dengan demikian, istilah “keracunan MBG” masih merupakan dugaan, bukan kesimpulan akhir mengenai penyebab medis kejadian.

Investigasi dan Pengujian Harus Dilakukan

Kasus tersebut kini menjadi perhatian serius karena menyangkut keamanan pangan dalam program MBG yang menyasar kelompok penerima manfaat dalam jumlah besar.

Badan Gizi Nasional sebelumnya telah menegaskan bahwa setiap laporan dugaan keracunan harus ditindaklanjuti dengan penghentian sementara produksi dan distribusi SPPG terkait, pengamanan makanan yang diduga menjadi penyebab, pengujian sampel serta investigasi untuk menemukan sumber masalah.

Aturan BGN juga membuka kemungkinan pemberian sanksi terhadap SPPG apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan pelanggaran atau terjadi keracunan makanan, mulai dari penghentian sementara kegiatan hingga pemberhentian permanen melalui pemutusan kerja sama.

Sebelumnya, BGN juga telah menerapkan kebijakan tegas terhadap dapur MBG yang dinilai tidak memenuhi standar. Hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 504 dapur MBG dilaporkan telah ditutup permanen karena dinyatakan tidak layak dari sisi sanitasi.

Keamanan Pangan Jadi Sorotan

Peristiwa di Sidoarjo kembali mengingatkan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang didistribusikan, tetapi juga dari aspek keamanan, kualitas, kebersihan, ketepatan waktu distribusi dan kepatuhan terhadap standar operasional.

Pemeriksaan terhadap bahan baku, proses memasak, penyimpanan, pengemasan hingga waktu makanan dikonsumsi menjadi bagian penting untuk mengetahui titik yang kemungkinan menimbulkan persoalan.

Kepala BGN Sudaryono sebelumnya menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar dalam pelaksanaan MBG.

Kini publik menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi resmi untuk memastikan penyebab sebenarnya dari kejadian yang membuat ratusan santri Manbaul Hikam harus mendapatkan perawatan medis tersebut.

Pemerintah daerah, BGN, tenaga kesehatan dan pihak terkait diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, terlebih MBG merupakan program nasional yang menyentuh jutaan penerima manfaat di berbagai daerah.

GLOBALTODAY.ID – Mengawal Informasi, Mengungkap Fakta.

( Fajar )