Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Momen Sederhana yang Tinggalkan Jejak Besar bagi Masa Depan

Globaltoday.id, LUMAJANG – Suasana haru dan penuh kehangatan mewarnai hari pertama masuk sekolah di berbagai sekolah di Kabupaten Lumajang, Senin (13/7/2026). Sebelum lonceng sekolah berbunyi, pelukan hangat, genggaman tangan, dan doa dari para orang tua menjadi bekal pertama yang mengiringi langkah anak-anak memasuki ruang kelas.

Pemandangan berbeda terlihat pada pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini. Jika biasanya halaman sekolah didominasi para ibu, kini banyak ayah hadir mengantar putra-putrinya. Mereka menggandeng tangan anak, memeluk dengan penuh kasih, hingga mengabadikan momen berharga di hari pertama sekolah.

Kehadiran para ayah merupakan bagian dari Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang bertujuan meningkatkan peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Di Lumajang, gerakan ini menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga hasil kolaborasi seluruh anggota keluarga.

Di halaman MIS Nurul Islam Kota Lumajang, Yusuf tampak mengantar putrinya menuju gerbang sekolah. Baginya, mengantar anak bukan sekadar memenuhi ajakan program nasional, tetapi telah menjadi rutinitas keluarga.

“Ibu di rumah masih banyak pekerjaan, jadi setiap hari saya yang mengantar. Yang penting anak merasa diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya,” ungkap Yusuf.

Hal senada disampaikan Arif. Ia mengaku bergantian dengan sang istri dalam mengantar anak, namun sebisa mungkin memilih hadir sendiri pada hari pertama sekolah.

“Hari pertama sekolah itu momen yang spesial. Saya senang bisa mendampingi anak dan memberikan semangat sebelum dia masuk kelas,” katanya.

Sementara itu, di SD Citrodiwangsan 1 Lumajang, Dayat juga tampak mengantar putranya yang baru mengenakan seragam sekolah dasar. Rutinitas tersebut akan terus ia lakukan karena searah dengan perjalanan menuju tempat kerjanya.

“Dulu diantar ibunya saat masih TK, sekarang saya yang mengantar karena sekalian berangkat kerja,” ujarnya sambil tersenyum.

Momen-momen sederhana seperti mengantar anak ke sekolah ternyata memiliki makna yang jauh lebih besar. Beberapa menit perjalanan bersama, obrolan ringan, doa sebelum berpisah, hingga pelukan hangat mampu membangun rasa aman, percaya diri, dan ikatan emosional yang kuat bagi anak.

Berbagai penelitian di bidang pendidikan juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua, termasuk ayah, memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial, emosional, hingga prestasi belajar anak. Kehadiran keluarga menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, disiplin, serta semangat belajar sejak dini.

Karena itu, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Gerakan ini mengajak setiap keluarga untuk terus hadir dalam setiap proses pendidikan anak, bukan hanya di hari pertama, tetapi sepanjang perjalanan mereka meraih masa depan.

Di Kabupaten Lumajang, hari pertama MPLS tahun ini menghadirkan pesan yang begitu mendalam. Sekolah memang menjadi tempat anak memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi rumah tetap menjadi ruang pertama mereka belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, keberanian, dan nilai-nilai kehidupan.

Dari sebuah pelukan di gerbang sekolah, tersimpan harapan besar. Sebab masa depan anak tidak hanya dibentuk oleh pelajaran di dalam kelas, melainkan juga oleh keluarga yang selalu memilih hadir, mendampingi, dan memberikan cinta di setiap langkah perjalanan mereka.