Menu MBG di Lumajang Disorot, Orang Tua Keluhkan Paket Dinilai Tak Seimbang

Globaltoday.id, Lumajang – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lumajang selama bulan Ramadan tetap berjalan. Namun di lapangan, sejumlah orang tua siswa mengeluhkan isi paket makanan yang dinilai kurang seimbang dan tidak mencerminkan standar gizi optimal.

Menu MBG yang diterima siswa pada awal pekan ini memicu reaksi beragam. Sejumlah wali murid menyebut paket yang dibagikan lebih menyerupai makanan ringan dibandingkan asupan bergizi lengkap.

Di  SDN 2 Bades, misalnya, paket MBG untuk tiga hari dilaporkan berisi 2 roti, Abon, 3 susu kotak, 3 biji kurma, 4 buah kelengkeng, 1 buah jambu, dan 2 butir telur. Sementara di SDN Kalipenggung 01, menu tiga hari terdiri dari 3 roti, 2 telur rebus, 2 susu kotak, 1 jeruk, 1 jambu, strawberry, dan 3 rambutan.

Adapun di SMPN 1 Pasirian, dan SDN 1 Pasirian paket MBG untuk tiga hari dilaporkan berisi 3 roti, 3 telur rebus, 1 jeruk, 2 pisang, serta 2 susu kotak UHT.

Sorotan juga muncul dari PAUD Flamboyan Desa Randuagung, di mana menu dibagikan per hari. Pada hari pertama, anak-anak menerima 3 biji kurma, abon ayam, 1 yu1 telur, dan 1 roti. Hari kedua berisi 1 pisang,  keripik tempe, roti dan Abon. Selama dua hari tersebut tidak terdapat susu dalam paket.

Salah satu orang tua murid PAUD berinisial M mengaku kecewa dengan komposisi menu yang diterima anaknya.

“Masak anak kecil dikasih keripik tempe, kan tidak ada gizinya, mana Susu ga ada,” ujarnya.

Sementara itu di SMPN 1 dan SMAN Tempeh, paket MBG untuk tiga hari (Senin, Selasa, dan Rabu) terdiri dari 2 susu kotak, 2 pisang, 1 jeruk, 3 telur rebus, dan 3 roti.

Sejumlah wali murid menilai komposisi menu cenderung didominasi makanan kering dan belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang, terutama pada jenjang pendidikan usia dini.

Program MBG merupakan kebijakan pemerintah pusat yang bertujuan meningkatkan asupan gizi peserta didik sekaligus menekan angka stunting. Secara konsep, program ini dirancang untuk memberikan dukungan nutrisi yang memadai bagi anak-anak sekolah.

Namun di tingkat pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi menjadi kunci agar distribusi menu benar-benar sesuai standar yang telah ditetapkan. Minimnya variasi dan ketiadaan susu pada beberapa paket menjadi catatan penting bagi pelaksana program di daerah.

Pemerintah daerah diharapkan memperkuat fungsi pengawasan serta memastikan mitra penyedia benar-benar memperhatikan kualitas gizi, bukan sekadar kuantitas pembagian.

Program sebesar MBG membutuhkan konsistensi antara perencanaan dan implementasi. Di satu sisi, program ini diharapkan menjadi solusi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, kualitas menu yang diterima siswa menjadi indikator nyata apakah tujuan tersebut benar-benar tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *