Globaltoday.id, Lumajang — Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kering yang rutin disajikan setiap hari Sabtu kepada para penerima manfaat anak sekolah kembali menjadi sorotan. Pasalnya, dalam beberapa minggu terakhir, paket MBG tersebut tidak lagi dilengkapi susu kotak UHT, menyusul kelangkaan produk susu pabrikan di pasaran serta lonjakan harga yang signifikan.
Kondisi ini terjadi di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lumajang. Meski menu MBG tetap dibagikan, absennya susu sebagai salah satu sumber protein dan kalsium dinilai perlu segera dicarikan solusi alternatif agar kualitas gizi anak tetap terjaga.
Menanggapi hal tersebut, Ketua LSM LP-KPK, Dodik, mendorong agar SPPG tidak terpaku pada susu kotak pabrikan, melainkan beralih ke susu alternatif berbasis lokal, salah satunya susu kedelai yang telah difortifikasi kalsium.
“Kelangkaan dan mahalnya susu UHT pabrikan jangan sampai dijadikan alasan menurunnya kualitas MBG. Ada alternatif yang cukup baik, lebih terjangkau, dan sesuai regulasi, yakni susu kedelai fortifikasi kalsium,” ujar Dodik, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, susu kedelai fortifikasi memiliki sejumlah keunggulan, antara lain aman bagi anak yang alergi susu sapi, cocok untuk intoleransi laktosa, serta lebih rendah gula. Meski kandungan gizinya tidak sepenuhnya identik dengan susu sapi, namun tetap cukup memadai sebagai pengganti, terutama dalam konteks program gizi massal seperti MBG.
“Tidak harus sama persis. Yang penting nilai gizinya layak, aman dikonsumsi anak, dan benar-benar sampai ke penerima manfaat,” tegasnya.
Sejalan Perpres 115/2025 dan Pemberdayaan UMKM
Lebih lanjut, Dodik menekankan bahwa penggunaan susu kedelai fortifikasi juga selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, yang secara tegas mewajibkan SPPG mengutamakan produk lokal serta menjalin kerja sama dengan UMKM, BUMDes, maupun koperasi desa.
“Ini justru momentum. Saat susu UHT pabrikan langka, SPPG bisa menggandeng UMKM lokal produsen susu kedelai. Nilainya lebih terasa untuk ekonomi masyarakat dan tidak melanggar aturan,” katanya.
Ia menyarankan susu kedelai yang digunakan dikemas dalam ukuran sekitar 200 ml per porsi, dengan standar fortifikasi kalsium yang jelas dan pengolahan higienis.
Harapan Perbaikan Desain Menu MBG
LP-KPK berharap, ke depan desain menu MBG, khususnya menu kering di akhir pekan, tidak hanya memenuhi aspek administratif dan klaim gizi, tetapi juga memperhatikan kualitas, variasi, serta kepatuhan regulasi.
“MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan. Ini program strategis negara untuk anak-anak. Jadi setiap rupiah anggaran harus benar-benar terasa manfaatnya,” pungkas Dodik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG di Lumajang belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana penggunaan susu alternatif sebagai pengganti susu UHT pabrikan. Yhh






