Malam Satu Suro, Tradisi Peninggalan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Uncategorized352 Dilihat

Globaltoday.id, Lumajang — Setiap datangnya malam satu Suro atau malam pertama dalam kalender Jawa (1 Muharram dalam kalender Hijriah), masyarakat Jawa masih melestarikan berbagai tradisi sakral yang penuh makna spiritual. Di berbagai daerah, termasuk Lumajang, ritual ini menjadi momen penting untuk introspeksi, permohonan keselamatan, dan pelestarian nilai-nilai budaya warisan leluhur.

 

Malam satu Suro bukan sekadar penanggalan, melainkan simbol pergantian tahun Jawa yang diyakini penuh aura mistis dan sakral. Masyarakat Jawa memaknainya sebagai waktu yang tepat untuk “tirakat” atau laku spiritual. Banyak yang memilih menyepi, berdoa, hingga menggelar ritual khusus seperti kungkum (berendam di sungai), topo bisu (berjalan tanpa bicara di malam hari), dan selametan dengan tumpeng sebagai simbol syukur.

 

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi bagian dari perjalanan spiritual kami sebagai orang Jawa,” ungkap Mbah Suroyo, sesepuh adat Desa Sumberurip, Lumajang, yang sejak muda mengikuti tradisi tirakat malam satu Suro bersama keluarganya.

 

Di lingkungan keraton dan komunitas budaya, malam Suro bahkan menjadi agenda tahunan penting. Di Keraton Surakarta dan Yogyakarta, misalnya, kirab pusaka dilakukan secara khidmat dengan berjalan kaki mengelilingi kota tanpa suara, sebagai simbol membersihkan batin dan menjaga warisan kerohanian.

 

Meski generasi muda kini hidup di era digital, sebagian dari mereka justru mulai tertarik kembali mempelajari filosofi Suro. Beberapa komunitas budaya dan pesantren bahkan aktif mengajak anak-anak muda untuk ikut serta dalam malam tirakat sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kearifan lokal.

 

Pemerhati budaya Jawa, Dr. Hadi Pranoto, menyebut malam satu Suro sebagai “perpaduan antara spiritualitas dan kearifan lokal”. Ia menekankan pentingnya menjaga makna tradisi ini agar tidak sekadar menjadi seremoni tahunan.

 

“Jika dijalankan dengan pemahaman yang benar, malam satu Suro bisa menjadi momentum perenungan diri, membangun koneksi spiritual, sekaligus mempererat hubungan antargenerasi melalui budaya,” ujarnya.

 

Kini, di tengah gempuran budaya global, malam satu Suro tetap menjadi lentera nilai-nilai Jawa yang menyala. Tradisi ini bukan sekadar ritual masa lalu, tapi juga cermin kedalaman spiritual dan identitas budaya yang tak lekang waktu.

( Dodik )