Empat Tahun Rusak, Jembatan Penghubung Gondoruso–Pasirian Belum Juga Diperbaiki, Warga Bangun Jembatan Darurat

Uncategorized304 Dilihat

Lumajang, Globaltoday.id – Warga Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, kembali harus bersabar. Sudah empat tahun berlalu sejak jembatan penghubung utama menuju pusat Kota Pasirian dan desa-desa sekitar mengalami kerusakan, namun hingga kini belum ada perbaikan signifikan dari pemerintah.

 

Jembatan yang berada di atas ruas jalan kabupaten tersebut masuk wilayah desa Bades, kini hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat dengan muatan ringan. Truk-truk pengangkut pasir dilarang melintas, kecuali dalam keadaan kosong. Sebagai solusi darurat, warga setempat membangun jembatan darurat dari batang pohon kelapa yang dilapisi karung berisi pasir.

 

“Kalau tidak begini, aktivitas warga lumpuh total. Ini satu-satunya akses cepat ke pasar, sekolah, dan fasilitas kesehatan,” kata salah satu warga setempat.

 

Kondisi jembatan yang memprihatinkan ini telah lama menjadi keluhan masyarakat. Namun, sejauh ini belum ada langkah konkret dari pemerintah kabupaten. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Lumajang, Heri, menyatakan bahwa pihaknya sudah mengusulkan perbaikan.

 

“Sudah diusulkan, dan insyaallah akan direalisasikan pada tahun depan,” jawab Heri singkat.

 

Sementara itu, Kepala Desa Bades, Sahid, ketika ditemui awak media di kantornya pada Rabu (25/6/2025), mengaku pihak desa juga telah mengusulkan perbaikan jembatan tersebut ke Pemkab Lumajang.

 

“Sudah pernah kami sampaikan usulannya, tapi memang belum ada tindak lanjut konkret,” ujar Sahid.

 

Warga berharap agar pemerintah segera bertindak, mengingat peran vital jembatan ini dalam mendukung mobilitas masyarakat dan perekonomian desa. Mereka khawatir jika terus dibiarkan, jembatan darurat yang dibangun secara swadaya ini justru membahayakan keselamatan pengguna jalan.

 

“Kami cuma bisa berharap. Jangan tunggu sampai ada korban baru diperbaiki,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

 

Jembatan tersebut menjadi urat nadi bagi ratusan warga dari Desa Gondoruso dan sekitarnya. Kerusakannya selama empat tahun menjadi bukti nyata perlunya percepatan pembangunan infrastruktur yang merata dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. ( Dodik )