Tiga Dam Sungai Mujur Jebol, Sawah Petani Tempeh Gagal Panen: Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk

Jawa Timur, Lumajang551 Dilihat

Globaltoday.id, Lumajang, 21 April 2025 – Krisis irigasi tengah melanda Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tiga dam utama di aliran Sungai Mujur—yakni Dam Klerek, Dam Kedungcangkring, dan Dam Yahodo—mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir lahar dingin Gunung Semeru sejak tahun 2024. Hingga kini, ketiganya belum juga diperbaiki secara permanen.

Akibat kerusakan ini, ratusan hektare lahan pertanian di sembilan desa terdampak terancam gagal tanam. Desa-desa tersebut meliputi Gesang, Jatisari, Tempeh Tengah, Lempeni, Tempeh Kidul, Pandanwangi, Pandan Arum, Sumberjati, dan Pulo. Para petani yang selama ini menggantungkan hasil panen dari sistem irigasi Sungai Mujur kini hanya bisa pasrah.

Zaelani, petani asal Desa Jatisari, mengungkapkan kegelisahannya. “Dam Kedungcangkring di Desa Gesang itu rusaknya parah. Sudah tiga kali diperbaiki, dua kali dari iuran petani lima desa, sekali dari iuran para kepala desa. Tapi tiap kali diperbaiki, cuma bertahan beberapa hari, terus jebol lagi,” jelasnya. “Sekarang kami nggak bisa nanam padi. Kalaupun maksa, harus pakai sumur bor, dan itu mahal. Biaya operasionalnya nggak sebanding sama hasilnya.”

Dam Kedungcangkring sendiri dikenal sebagai pengatur utama distribusi air ke sawah-sawah di wilayah hilir. Sementara itu, Dam Klerek berada di bagian hulu Sungai Mujur, dan Dam Yahodo berada di wilayah Desa Tempeh Tengah. Ketiganya memainkan peran krusial dalam mengairi ratusan hektare sawah di Kecamatan Tempeh.

Kepala Desa Tempeh Tengah, Mansyur, membenarkan bahwa sudah ada upaya swadaya dari lima kepala desa untuk melakukan perbaikan sementara. Namun hasilnya nihil. “Sudah kami urunan, perbaikan sempat dilakukan, tapi cuma bertahan seminggu. Kebutuhannya bukan lagi tambal sulam, tapi pembangunan ulang secara permanen. Itu butuh anggaran dari pemerintah daerah,” tegasnya.

Namun ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas PU-PR Kabupaten Lumajang, Endah, menyampaikan bahwa ketiga dam tersebut merupakan aset milik Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur. “Kami hanya bisa mengusulkan agar pembangunan dam-dam tersebut dilakukan secepatnya,” tulisnya melalui pesan singkat WhatsApp kepada awak Global. Sedangkan Kepala UPT PU Sumber Daya Air ( SDA ), saat didatangi awak media ke kantornya , tidak berada di tempat ( 21/4 ).

Sementara itu, di tingkat nasional, Presiden Prabowo telah menginstruksikan seluruh kepala daerah agar menjadikan pembangunan infrastruktur pertanian sebagai prioritas dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Sebagai tindak lanjut, seluruh desa diwajibkan mengalokasikan 20% Dana Desa tahun 2025 untuk program ketahanan pangan.

Namun para petani dan kepala desa menilai, kebijakan tersebut tidak akan berjalan efektif tanpa infrastruktur irigasi yang memadai. “Kalau saluran airnya rusak, sawah kekeringan, ya percuma ada program ketahanan pangan,” ujar salah satu petani di Desa Lempeni.

Sampai berita ini diterbitkan, belum ada kepastian jadwal pembangunan ulang dam-dam di aliran Sungai Mujur. Petani pun terus dihantui kekhawatiran gagal tanam, dan Lumajang menghadapi ancaman serius terhadap ketahanan pangan lokal (Dodik )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *