Globaltoday.id, Lumajang, 24 Maret 2025 – Suasana lantai dua Pasar Umum Pasirian kini bak kota mati. Lapak-lapak yang dulu ramai oleh pedagang pakaian kini tertutup rapat, tanda banyak yang tak sanggup bertahan. Situasi ini sangat kontras dibandingkan tiga tahun lalu, sebelum mal mulai menjamur di kecamatan Pasirian.
Tahun ini, jumlah mal di Pasirian telah mencapai lima, dengan kehadiran terbaru Mr. DIY yang baru seminggu beroperasi. Gelombang perdagangan modern ini kian mempersempit ruang gerak usaha kecil, yang tak mampu bersaing dengan modal besar dan strategi pemasaran agresif dari ritel modern.
“Sekarang pelanggan lebih suka ke mal karena tempatnya nyaman, ber-AC, dan sering ada diskon besar. Kami yang di pasar tradisional jadi makin sulit mendapatkan pembeli,” keluh Siti (45), seorang pedagang pakaian yang terpaksa menutup usahanya setelah berjualan lebih dari 15 tahun.
Fenomena ini menggambarkan risiko perdagangan bebas yang tanpa pengawasan ketat justru menguntungkan pemodal besar, sementara pelaku usaha kecil semakin terpinggirkan. Pemerintah diharapkan turun tangan dengan kebijakan yang lebih adil agar persaingan tetap sehat.
“Pemerintah harus hadir untuk menyeimbangkan persaingan. Bukan berarti menolak kemajuan, tapi harus ada win-win solution agar usaha kecil tetap bisa bertahan,” ujar Bambang, seorang pengamat ekonomi lokal.
Masyarakat pun berharap ada kebijakan yang lebih berpihak pada pedagang kecil, misalnya dengan pengelolaan pasar yang lebih modern dan menarik, insentif pajak, serta pembatasan ekspansi mal di area tertentu. Jika tidak ada tindakan konkret, bukan tidak mungkin pasar tradisional di Pasirian hanya tinggal kenangan dalam waktu dekat. Dodik






