Seluma, Globaltoday.id- Sejumlah Dokter Spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tais, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu diketahui selama kurang lebih 3 (tiga) Bulan terhitung dari Bulan Juni-Agustus Tahun 2023 Insentif mereka belum dibayarkan. pasalnya, para pasien yang menggunakan kartu BPJS untuk pengobatan terhalang akibat Dokter Spesialis yang mogok kerja.
Diketahui dari pemberitaan sebelumnya, bahwa beberapa Dokter Spesialis di RSUD Kota Tais tersebut berani melakukan aksi Mogok kerja selama kurang lebih 2 Minggu dikarenakan Insentif yang menjadi hak mereka belum dibayarkan oleh pihak-pihak tertentu. Akibatnya dari kejadian tersebut banyak masyarakat yang mengeluhkan dan dirugikan atas pelayan yang lakukan oleh RSUD tersebut.
Salah seorang keluarga pasien Sarjono yang merupakan suami dari salah satu pasien Dokter Saraf menjelaskan, bahwa masih banyak para pasien yang lainnya seperti di Poli Saraf, Poli Dalam dan Poli lainnya yang menggunakan Dokter Spesialis. Dikarenakan sudah 2 minggu Dokter Spesialis tidak pernah datang, maka Sarjono mencari tau dan mempertanyakan kepada pihak management RSUD, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
“Memang benar istri saya sudah berobat dg Dokter Saraf di RSUD Kota Tais dan sekarang Alhamdulillah sudah sehat, akan tetapi istri saya harus tetap kontrol setiap 2 minggu sekali untuk melihat dan memastikan setiap perkembangan dan kesehatan istri saya,” ungkap Sarjono salah seorang keluarga pasien melalui pesan singkat WhatsApp pada Senin, (25/9/2023) malam.
“Saya mencoba berkoordinasi dengan Dokter yang ada di Puskesmas, sehingga diketahuilah sumber masalah dari mogok kerjanya setiap Dokter Spesialis yaitu dikarenakan semenjak bulan Juni sampai September Insentif para Dokter Spesialis belum dibayarkan sedangkan para Dokter Spesialis ini semuanya dari kota Bengkulu jelas mengeluarkan biaya lebih untuk operasional mereka,” imbuhnya.
Lanjutnya, management RSUD yang bobrok seperti ini dan tidak ada lagi rasa toleransi antara penyelenggara dengan subjektif yangg dibutuhkan masyarakat banyak, sehingga pelayanan publik hanya simbol dalam dunia ini tanpa adanya kejelasan terkait Insentif yang sudah menjadi hak mereka, membuat para Dokter enggan untuk berangkat dikarenakan biaya operasional mereka mahal.
“Siapa yang tega kepada pasien dengan permasalahan seperti ini, pihak dari rumah sakit atau para Dokter Spesialis?, sedangkan para pasien yang datang ke RSUD tersebut membutuhkan pengobatan dan orang-orang seperti saya hanya menggunakan BPJS demi pengobatan istri saya. Imbas dan pengaruh dari permasalahan management RSUD yang belum membayarkan Insentif kepada Dokter Spesialis sangatlah besar kepada masyarakat,” ujarnya sembari dengan nada kesal dikarenakan bobroknya pelayanan RSUD Kota Tais.
Pewarta | Ilham






