Talo, Globaltoday.id- Ahmad Syukur bocah 13 tahun di Desa Sukamerindu Kecamatan Talo Kabupaten Seluma harus melawan penyakit langka Thalasemia Beta Mayor yang di deritanya sejak umur 2 Tahun.
Meski berat, Vevi Etriana selaku ibu dari Ahmad akhirnya memutuskan berbagi kisah dengan tim Globaltoday tentang proses pengobatan Thalasemia Beta Mayor yang dialami oleh Ahmad.
Thalasemia beta mayor membuat Ahmad harus melakukan transfusi darah yang rutin dan berulang sepanjang hidupnya. Bahkan, hingga 3 minggu sekali, serta ditambah juga dengan menkonsumsi obat-obatan pembuang zat besi agar ia bisa bertahan hidup.
Hal ini diungkap oleh Vevi saat di konfirmasi awak media Kamis, (22/12/2022). Meski keadaannya sempat stabil, namun kini perkembangan kesehatan Ahmad jika telat transfusi HB turun.
Vevi mengakui, proses pengobatan anaknya hingga saat ini memakan biaya yang jauh di luar kemampuannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
“Untuk biaya pengobatan kami memakai BPJS, yang kami keluhkan masalah biaya transportasi kami ke rumah sakit Ummi Bengkulu,”ujarnya.
“Kami tidak tau lagi harus mencari biaya transportasi dari mana, saya seorang ibu rumah tangga sedangkan ayah nya seorang petani,”jelasnya.
Vevi menjelaskan, untuk pengobatan serta transfusi darah setiap bulan membutuhkan biaya Rp 1.000.000.
“Kami memerlukan biaya setiap bulan untuk transfusi darah Rp 700.000, sedangkan untuk mengambil obat Rp 300.000,”jelasnya.
Solihin S.s selaku kepala sekolah SMPN 8 Seluma sudah memberi izin kepada Ahmad Syukur untuk tidak mengikuti pembelajaran.
“Kami selaku pihak sekolah sudah membantu untuk meringankan beban biaya perjalanan anak kami Ahmad Syukur untuk berobat ke Bengkulu dengan cara iuran setiap murid dan guru SMPN 8 Seluma,”terangnya.
“Harapan kami Ahmad bisa cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kami di SMPN 8 Seluma serta bisa mengikut proses pelajaran,”tutupnya.






